Kamis, 21 Agustus 2014
Johanna Margaretha: Catatan ke 27 tahun
Johanna Margaretha: Catatan ke 27 tahun: Hari ini....tidak....lebih tepatnya minggu ini...adalah saat2 dimana tumben tumbennya aku banyak merenung dan bengong yang ada di benak ad...
Rabu, 20 Agustus 2014
Catatan ke 27 tahun
Hari ini....tidak....lebih tepatnya minggu ini...adalah saat2 dimana tumben tumbennya aku banyak merenung dan bengong
yang ada di benak adalah, "Gilak udah 27 tahun ! Sudah berbuat apa aja aku selama hidup belakangan ini?".....aku mencoba untuk mengingat SE-MU-A hal...tapi otakku terlalu lemah untuk itu
kalau bisa dibilang otakku seperti nge-hang
namun, semua berubah di saat malam ini kami mengadakan ibadah syukur bersama GP'ers dan kuartet kwek-kwek di rumah
Papa.....yang selama ini ternyata memperhatikanku dalam diam, menyatakan hal yang tak kusangka dan hampir menjebol bendungan airmataku
"Johanna, anak kami yang kami perhatikan selama ini....kami ga tau persis apa pergumulannya.... pergumulan pribadinya....tapi yang kami lihat dia tidak pernah mencoba menghindar....dia selalu hadapi....dengan ketekunan dia tetap menjalani semua pergumulannya"
Pa, Ma......maaf kalau akhir-akhir ini aku jarang share lagi dengan papa dan mama.....kalaupun ada itu hanya sekedar hal-hal yang berkaitan dengan pendidikanku saja. Sesungguhnya ada begitu banyak beban yg kusimpan dalam hati dan terpaksa itu semua kulakukan supaya papa dan mama ga kepikiran dan terlalu khawatir denganku
Sebenarnya sudah beribu kali aku ingin menyerah.....aku berusaha meminta pertolongan dari Tuhan dalam diam untuk meredakan rasa gemetar dalam diri saat menempuh pergumulan dan omongan negatif orang terhadapku selama ini. Melihat kondisi papa dan mama yang semakin hari semakin lemah...membuatku tak tega melontarkan keluhan yang sebenarnya selama ini ingin kuteriakkan. Oleh karena itu, selama ini Butet selalu menampilkan sosok yang tegas, idealis, dan mungkin sering memberikan statement keras. Butet ga mau memperlihatkan kelemahan dan rasa gemetar ini di hadapan papa dan mama....
Pa, Ma.....sudah 27 tahun ini kulihat papa dan mama sudah susah payah memperjuangkan hidup keluarga kita dan sampai sekarang belum memberikan bantuan yang berarti. Butet hanya bisa menyumbangkan bantuan berupa tidak berbuat yang macam-macam dalam pergaulan.....termasuk yaa itu....berusaha untuk menghadapi pergumulan pribadi yang senantiasa kualami tanpa harus membebani papa dan mama. Setiap hari Butet hanya bisa berdoa agar papa dan mama ditambahkan umurnya minimal 10 tahun....10 tahun saja....agar bisa melihat kami sukses, memiliki keluarga, sempat menimang cucu, pokoknya disempatkan melihat kami sekedar membalas semua kasih sayang dari papa dan mama
Pa Ma....maaf kalau Butet telat membahagiakan papa dan mama jika dibandingkan teman2 sebayaku yang sudah bekerja dengan mapan dan memiliki keluarga baru.....Semoga Tuhan sudi mengabulkan doaku yang ingin membahagiakan papa dan mama serta membanggakan seluruh keluarga kita di saat papa dan mama masih hidup dan kuat berdiri
yang ada di benak adalah, "Gilak udah 27 tahun ! Sudah berbuat apa aja aku selama hidup belakangan ini?".....aku mencoba untuk mengingat SE-MU-A hal...tapi otakku terlalu lemah untuk itu
kalau bisa dibilang otakku seperti nge-hang
namun, semua berubah di saat malam ini kami mengadakan ibadah syukur bersama GP'ers dan kuartet kwek-kwek di rumah
Papa.....yang selama ini ternyata memperhatikanku dalam diam, menyatakan hal yang tak kusangka dan hampir menjebol bendungan airmataku
"Johanna, anak kami yang kami perhatikan selama ini....kami ga tau persis apa pergumulannya.... pergumulan pribadinya....tapi yang kami lihat dia tidak pernah mencoba menghindar....dia selalu hadapi....dengan ketekunan dia tetap menjalani semua pergumulannya"
Pa, Ma......maaf kalau akhir-akhir ini aku jarang share lagi dengan papa dan mama.....kalaupun ada itu hanya sekedar hal-hal yang berkaitan dengan pendidikanku saja. Sesungguhnya ada begitu banyak beban yg kusimpan dalam hati dan terpaksa itu semua kulakukan supaya papa dan mama ga kepikiran dan terlalu khawatir denganku
Sebenarnya sudah beribu kali aku ingin menyerah.....aku berusaha meminta pertolongan dari Tuhan dalam diam untuk meredakan rasa gemetar dalam diri saat menempuh pergumulan dan omongan negatif orang terhadapku selama ini. Melihat kondisi papa dan mama yang semakin hari semakin lemah...membuatku tak tega melontarkan keluhan yang sebenarnya selama ini ingin kuteriakkan. Oleh karena itu, selama ini Butet selalu menampilkan sosok yang tegas, idealis, dan mungkin sering memberikan statement keras. Butet ga mau memperlihatkan kelemahan dan rasa gemetar ini di hadapan papa dan mama....
Pa, Ma.....sudah 27 tahun ini kulihat papa dan mama sudah susah payah memperjuangkan hidup keluarga kita dan sampai sekarang belum memberikan bantuan yang berarti. Butet hanya bisa menyumbangkan bantuan berupa tidak berbuat yang macam-macam dalam pergaulan.....termasuk yaa itu....berusaha untuk menghadapi pergumulan pribadi yang senantiasa kualami tanpa harus membebani papa dan mama. Setiap hari Butet hanya bisa berdoa agar papa dan mama ditambahkan umurnya minimal 10 tahun....10 tahun saja....agar bisa melihat kami sukses, memiliki keluarga, sempat menimang cucu, pokoknya disempatkan melihat kami sekedar membalas semua kasih sayang dari papa dan mama
Pa Ma....maaf kalau Butet telat membahagiakan papa dan mama jika dibandingkan teman2 sebayaku yang sudah bekerja dengan mapan dan memiliki keluarga baru.....Semoga Tuhan sudi mengabulkan doaku yang ingin membahagiakan papa dan mama serta membanggakan seluruh keluarga kita di saat papa dan mama masih hidup dan kuat berdiri
Sabtu, 05 Juli 2014
SEKARANG ATAU LIMA PULUH TAHUN LAGI
Headline diatas pasti
mengingatkan kita dengan judul lagu pop yang sempat popular beberapa tahun lalu
; serta telah beberapa kali di recycle dan di cover oleh penyanyi-penyanyi lain
di tahun berikutnya. Akan tetapi, yang akan saya torehkan dalam tulisan kali
ini tidak akan mengulas lebih dalam mengenai arti dan interpretasi lagu
tersebut menurut pandangan pribadi; hanya saja sedikit banyak terinspirasi
daripada lirik lagunya.
Pertama-tama yang
terlintas dalam benak saya adalah…..waktu tidak pernah berjalan mundur atau
menunggu kita yang sedang berjalan di dalamnya. Tidak pernah kutemui adanya hal
yang sama persis ; antara hal-hal yang
kutemui kemarin dengan hal-hal yang ditemui hari ini, pun saya tidak mengetahui
hal-hal apa yang AKAN ditemui esok. Kecuali, sesuai dengan kata orang bijak,
ketika saya memutuskan untuk diam sementara rentetan waktu terus melaju ke
depan.
Apapun pengalaman
yang telah terjadi tentu akan tersimpan, mau tidak mau, sadar tidak sadar, hal
itu tidak mungkin dilupakan…hanya tersimpan; apakah jauh ke dalam alam bawah
sadar atau tetap dalam pikiran kita. Mungkin kita pernah mengalami dimana
dengan sekuat tenaga memberikan sugesti untuk melupakan sesuatu ; akan tetapi
di waktu yang tidak terduga hal tersebut muncul ke permukaan karena adanya
suatu pemicu yang tidak kita sadari. Perasaan dan kesan yang kita dapat selama
menempuh suatu pengalaman hidup sering membekas dan sulit untuk hilang sama
sekali. Termasuk pengalaman bertemu dengan orang yang kita kasihi.
Saya percaya bahwa
setiap manusia telah disiapkan pasangannya masing-masing. Akan tetapi, Tuhan
menempatkan kita ke dalam suatu “proses” kepada kita melalui orang-orang yang
kita temui untuk belajar “mengenali dia” , terlebih-lebih “mengenali diri kita
sendiri” melalui pengalaman kita bersama “dia”. Interaksi yang berjalan secara
intens dengan segala warna dinamika , sesungguhnya akan memberikan pengalaman
yang berbeda setiap harinya.
Satu per satu orang
yang kita kasihi mungkin datang secara silih berganti; hingga pada akhirnya
kita menemui seseorang yang kita yakini bahwa , DIALAH ORANG YANG KIRANYA TELAH
DIPERSIAPKAN TUHAN UNTUK MENJADI PENDAMPING HIDUPKU. Ketika kita telah
berkomitmen bahwa hanya dialah yang menjadi satu-satunya alasan kegirangan kita
dalam berbagi setiap segi kehidupan dalam ikatan keluarga yang utuh. Sepertinya
suatu lagu wajib bagi calon pasangan dan pasangan tersebut untuk menyanyikan
lagu yang menjadi headline ini :-D.
Akan tetapi, saya
memiliki pandangan yang sedikit berbeda. Saya tidak ingin tetap sama seperti
sekarang ini. Saya tidak ingin tetap memiliki kadar perasaan yang sama seperti
saat pertama kali saya bertemu dan meyakini bahwa “kamu” adalah “aku”. Waktu
terus berjalan dan tidak mau menunggu.
Saya ingin “kita” ikut berjalan dan mungkin berlari bersama waktu….saya tidak
ingin kita hanya “diam”.
Saya ingin rasa cinta
dan kasih saya semakin bertambah setiap harinya, setiap bulannya, setiap
tahunnya. Saya ingin kita semakin tambah mengenal dan tak segan menunjukkan
kelemahan kita setiap harinya, setiap bulannya, setiap tahunnya. Saya ingin
kita tambah mengenal dan melengkapi setiap harinya, setiap bulannya, setiap
tahunnya. Saya ingin semakin diperkaya dengan pengalaman melihat perkembangan
buah hati kita bersama-sama setiap harinya, setiap bulannya, setiap tahunnya.
Mungkin hal yang akan
menyebabkan kita terdiam adalah ketika kelelahan menyerang dan memaksa kita
untuk istirahat sejenak. Sejenak. Tidak ingin berlama-lama.
Diam akan menjadi
teman adalah ketika salah satu diantara kita terlalu jauh untuk menggandeng
tangan dan berjalan bersama-sama. Ketika salah satu harus pindah ke tautan
waktu yang berbeda dengan dunia fana. Ketika salah satu hanya bisa berjalan dan
berlari sendirian….sambil menggenggam tanggung jawab serta kasih daripada buah
hati yang menjadi pelipur lara. Ketika hanya salah satu yang tinggal dan
menggenggam erat kenangan yang diam dan memeluk rindu.
Sekarang, esok, tahun
depan, dasawarsa berikutnya….tidak akan sama. Waktu selalu menggandeng
perubahan.
Selasa, 04 Maret 2014
INVISIBLE CRACKS.....Bagian Empat
Tididid….Tididid…Tididid….
“ Argh, menyebalkan
sekali suara alarm ini membuat kepalaku pusing”, gumamku sambil menggosokkan
mata. Tiba-tiba aku teringat akan Stephen dan kejadian semalam. Sontak badanku
seperti melompat dari tempat tidur. “Apa? Aku sudah diatas tempat tidur?”,
alangkah kagetnya saat kulihat jam alarm sudah menunjukkan pukul 05.30 pagi.
Apa-apaan ini? Bukankah seharusnya tidak seperti ini? Bukankah seharusnya aku
sedang mencari Stephen dan terjatuh di dapur? Siapa yang membiusku? Segala teka-teki
itu membuat kepalaku berdenyut nyeri. Kuraih handphone ku dan memutuskan untuk
tidak hadir pada hari ini…kepalaku sakit sekali. Aku perlu waktu untuk
meluruskan yang sudah kualami tadi. Badanku terasa lemas .
Ah….aku memang
membutuhkan istirahat dari segala rutinitasku yang harus bertemu dengan
orang-orang yang menyebalkan itu. Menjauhkan diri dari segala tugas-tugas dan
segala tatapan yang mengganggu itu barang sehariiii saja. Baiklah, hari ini aku
akan membusuk disini. Hanya untuk hari ini.
Setengah jam
berlalu dan aku hanya membolak-balikkan badan dengan gelisah. Merasa tidak
tahan , akhirnya kuputuskan mencuci seprai dan membereskan rumah; ini lebih
baik daripada hanya bengong dan tidak melakukan sesuatu.
---------------------------------**********------------------------------------------
Aku merasa bangga
dengan hasil kerjaku di rumah ini. Rumah yang selama ini jarang mendapat
“sentuhan” kini terasa sangat luas, bersih, jauh lebih nyaman dari sebelumnya.
Senyuman lebarku seketika menghilang saat aku melihat bungkusan hitam di tong
sampah. Dengan hati-hati aku menghampiri dan membuka isinya. Rupanya aku masih
merasa penasaran dengan kejadian itu.
Ternyata yang
kutemukan bukanlah pakaian Stephen semalam atau kain yang kugunakan untuk
membersihkan “jejak”; melainkan tumpukan sampah dari dua hari yang lalu, yang
belum sempat kubakar. Jidatku berkerut dan mulai merasa nyeri. Apa maksudnya
semua ini? Masakan aku hanya bermimpi? Kucoba meraih tangan dan kakiku untuk
melihat apakah ada tanda-tanda memar karena terjatuh. Tidak ada yang kutemukan.
Ah, berarti itu hanya mimpi. Aku mencoba mengulangi kata-kata tersebut untuk
membentuk suatu sugesti. Yap, ha-nya mim-pi.
Setelah membereskan
rumah aku membereskan badan ini yang sudah mulai membusuk. Hahaha….lega rasanya
sudah mengeluarkan keringat karena melakukan aktivitas yang menenangkan jiwa.
Barulah semua sampah-sampah yang ada kubawa ke depan untuk dibakar.
“Rajin sekali
pagi-pagi membereskan rumah!”, “Ahaha…sesekali bu. Rumah ini sudah hampir
berbulan-bulan tidak terurus”. Ibu Emi, tetanggaku sedang menyapu halaman dan
melihat seorang gadis yang selama ini jarang telihat. Mungkin saja ibu Emi
merasa heran dengan diriku yang berangkat dari rumah saat pagi-pagi buta dan
pulang ketika malam hari menjelang. Akupun menyapa Pak Bram yang sedang santai
di teras rumahnya. Namun, aku merasa harus mampir kesana.
Setelah kuperiksa
dan kukunci semua pintu dan jendela rumah, kuputuskan untuk ke tetangga yang
sudah seperti orangtuaku. Bapak Bram dan Ibu Emi pun menyambut kedatanganku
dengan hangat. Kami mengobrol dengan lancar sambil menyantap sarapan pagi
buatan ibu Emi. Ah, kehangatan ini sangat kurindukan. Semenjak hari itu….
Alangkah
terkejutnya saat aku melihat Koran pagi yang sedang dibaca pak Bram. Mungkin
karena melihat wajahku yang penasaran, pak Bram menyodorkan Koran itu untuk
kubaca.
Café di kota M
Dikelilingi PoliceLine dan Melumpuhkan Kegiatan Operasional Sementara
“Telah
terjadi keributan besar di sebuah café kawasan kota M pada pukul 01.35 dini
tadi. Keributan ini berasal dari pihak sekuriti yang lengah dan membiarkan
seorang pemuda menyusup di ruang ganti artis. Diduga pelaku tersebut menyusup
masuk dan menyerang salah satu artis disana. Menurut keterangan saksi, artis
tersebut diseret menuju pintu belakang; akan tetapi, berhasil dicegah oleh
seorang pemuda lain yang kemudian menjadi korban penganiayaan pelaku.
Ketika
pihak keamanan hendak turun tangan, pelaku telah memanggil teman-temannya
sehingga menimbulkan keributan besar. Hingga kini, pemuda yang dianiaya beserta
pelaku tidak dapat diidentifikasi keberadaannya. Kini pihak kepolisian hendak
memeriksa teman-teman pelaku tersebut. Diduga mereka hanyalah preman yang
dibayar oleh pelaku.”
PERSIS!
“Ada apa, nak?
Kenapa wajahmu seperti itu?”, suara pak Bram menyadarkanku dari lamunan. Ibu
Emi menatapku dengan wajah yang terheran-heran. “Berita ini menarik.
Saya….merasa seperti menonton cuplikan adegan film detektif. Hahaha!”, aku
mencoba menjawab seadanya agar tidak menimbulkan kecurigaan. Kami melanjutkan
obrolan hingga menjelang siang hari. Rasanya tidak enak kalau berlama-lama
disini.
Dalam perjalanan
menuju pintu rumah, kepalaku kembali berkecamuk dengan potongan-potongan puzzle
ini. Sugesti yang sudah susah payah kubangun sepertinya harus ditepis. Dari
dalam rumah kudengar suara televisi yang menyala. Aku berlari menuju pintu
belakang yang sekonyong-konyong sudah terbuka. Astaga, apa lagi ini?!
Jantungku serasa
mau melompat saat kulihat sosok pemuda yang mengobrak-abrik lemari es dapur.
“Stephen??”
“Oh, Hai! Aduh!”, kepala Stephen terbentur rak
lemari es karena terlalu terburu-buru menyapaku. “Kenapa kamu tidak hadir hari
ini?”. Pertanyaan yang aneh, pikirku. Aku mulai merancang suatu kecurigaan
padanya.
“Sesekali ingin
menjauh dan membereskan “sesuatu””, jawabku sambil mengangkat bahu.
“Yeah, bisa kulihat
rumahmu jauh lebih tertata rapi dan….sesekali bersosialisasi dengan tetangga
itu tidak salah kok”, jawabnya sambil melengkungkan cengiran khas Stephen.
“Berarti kamu sudah
lama disini. Kenapa tidak nimbrung saja tadi?”
“Males ah, obrolan
orangtua”
Sial.
“Jangan cemberut
gitu, Gina. Manismu ntar berkurang loh. Tuh, kubawakan makanan dan minuman
kesukaanmu; PLUS buah-buahan. Eh, tapi kayaknya buah sekeranjang itu kutarik
deh…kukira kamu sakit”
“Terserah”, jawabku
sambil berlalu menuju ruang tengah.
Tanganku ditarik Stephen dan dia
mendekatkan dahinya di dahiku. Cukup lama.
“Ah…aku tidak
berhasil membaca pikiranmu”
“Apa maksudmu?”
“Ada sesuatu yang
ingin kamu katakan padaku?”, dia berkata seperti itu sambil tersenyum.
Sialan.
Bukankah terbalik, seharusnya kamu yang menceritakan “sesuatu” padaku? Tentang
kejadian semalam….setelah aku mengantarmu bekerja. Apa yang terjadi di Café
itu?
Tidak ada sepatah
katapun yang terucap dari mulutku. Aku hanya menurunkan sudut bibir dan
menaikkan bahu. “Entahlah, aku hanya merasa lelah. Ingin bermalas-malasan saja
hari ini. Seperti yang kubilang tadi, ingin menjauh dan membereskan “sesuatu” ”.
Aku merasa sangat kecewa dengan kelakuan Stephen…..dan kelakuanku barusan. Kami
seperti bermusuhan. Ah..situasi yang sangat MENYEBALKAN!
“Baju itu….”
Astaga, aku baru
sadar kalau sedang memakai kemeja Stephen. Kemeja bulukan yang tidak sudi
dipakainya. Kemeja ini kuanggap seperti piyama yang sangat nyaman untuk dipakai
di rumah.
“Oh, iya ini untuk
terakhir kalinya aku memakai. Karena sudah telalu buluk, setelah ini akan
kubuang”.
Bodoooohhh! Kenapa
aku menjawab seperti barusaaan? Astaga, makin runyam deh masalahnyaaa! Regina
BODOH!
Stephen tidak marah
ataupun menjawab pernyataanku barusan. Dia malah mendekat ke arahku. Dia
memeluk dengan hangat dan berhasil membuyarkan airmataku. Ah, benar-benar
bodohnya aku.
“Sudah, jangan
menangis lagi. Kamu mungkin telah mengalami suatu hal buruk dan mempengaruhi
moodmu. Aku datang di saat yang tidak tepat, ya kan?”
“Maaf, Stephen,
maaf” , aku berhasil membasahi kemeja di badan Stephen dengan airmata dan ingus
(jorok!).
“Hee…okelaah aku
akan memaafkanmu dengan satu syarat”
“Apa-apaan sih
sampai hal seperti ini juga perhitungan?”
“Bukan mengenai
kelakuanmu yang jutek itu, sayangku. Tapi lihat, hasil karyamu di kemejaku yang
mahal ini!” , Stephen menunjukkan pola abstrak hasil karyaku di kemejanya
dengan ekspresi pura-pura kesal. Ah, dia berhasil membuatku tertawa lagi.
“Iya deh ….kuganti
deh. Dasar perhitungan banget sih jadi manusia! Apa maumu?”
“Hmmm….apaa yaa?”,
dia membuat gesture (sok) sedang berpikir keras. Memang cocok menjadi pelawak
manusia satu ini. Tiba-tiba dia memandangiku dengan lekat. Dia meraih daguku
dan mencoba mendekatkan wajahnya.
“Stephanie?”
Gerakannya terhenti
dan tersenyum. Tersenyum bersalah.
“Istirahatlah. Aku
hanya sebentar kesini untuk break jam makan siang. Nanti akan kupikirkan cara
menebus kemejaku ini”.
Stephen mencium
keningku dan berlalu.
Aku?
Termangu…….
----------------------------------------
---------TO BE CONTINUED --------------------------------------------------
Rabu, 26 Februari 2014
INVISIBLE CRACKS.....Bagian Ketiga
Kalau kuingat-ingat, selama ini
Stephen menceritakan perihal pekerjaan dengan tidak begitu mendetail. Hanya
mengenai pekerjaan yang mengandung resiko tinggi kalau tidak berhati-hati dan
kelihaian dalam menyamar sangat dibutuhkan. Akupun tidak pernah diperbolehkan
masuk ke dalam café itu. Sepertinya penjaga sudah diberikan pesan agar aku
hanya diperbolehkan mengantar atau menjemput di luar café saja.
Sempat kutebak-tebak dan kuungkapkan
kepadanya langsung. Mulai dari germo, pengedar narkoba, penari striptis,
penjaga para pelacur yang ada disana saat “beraksi”….tidak ada satupun yang
dijawabnya dengan jelas, hanya terkekeh dan menggeleng-gelengkan kepala. Ah,
geram jadinya. Sejak saat itulah aku menyerah mengurusi kehidupan malamnya itu.
Yang penting dia selalu ada di saat aku butuh, begitu pula aku.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~******~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Tiba-tiba aku terbangun. Aku mengecek handphone terdapat puluhan panggilan tak terjawab. Stephen. Dia menelfon sejak dua jam yang lalu. Seketika itu juga aku merasakan bulu romaku berdiri. Stephen tidak pernah-pernahnya melakukan hal seperti ini. Sewaktu kucoba menelfon kembali tidak ada jawaban yang kuperoleh. Hanya nada tunggu dan diakhiri dengan mailbox. Perutku serasa melilit dan kepalaku tiba-tiba terasa berat. Sepertinya ada firasat yang tidak enak.
Untuk menenangkan diri aku berjalan menuju dapur untuk mengambil air hangat. Namun, alangkah kagetnya aku ketika melihat pintu belakang di samping dapur terbuka. Aku langsung mencari panci penggorengan sebagai senjata untuk membela diri, lalu berjalan mengendap menuju pintu itu.
“STEPHEN….!!!!”
Sontak aku berlari menuju tubuh Stephen yang berlumuran darah di bawah pintu belakang dapur. Wajahnya sudah dingin dan pucat. Aku mengecek kembali ke arah pintu luar apakah ada seseorang yang bersembunyi. Tidak ada. Hanya jejak darah Stephen yang tercecer dari pagar hingga pintu belakang ini. Tak lama kusembunyikan tubuh Stephen dan kubersihkan jejak darahnya dengan air dan karbol. Aku tak mau ada kecurigaan yang mengusik ketenanganku ini. Setidaknya sampai kuperoleh cerita dari Stephen sendiri mengenai apa yang sebenarnya telah terjadi.
Seusai
“pembersihan” itu, aku menuju ruangan dapur dan menyiapkan air hangat dan
handuk bersih. Kucoba membersihkan luka-luka yang ada di wajahnya. Untunglah
dia tidak mengalami luka tusuk di badannya. Sepertinya dia dihajar dengan benda
tumpul. Apakah kali ini dia lengah dan ketahuan polisi? Segala pikiran jelek
berkecamuk dalam kepalaku hingga membuatku mual. Aku seperti pengasuh bayi yang
membersihkan badan Stephen yang tidak berdaya ini. Terpaksa tubuhnya kulilit
dengan kain panjang karena pakaiannya sudah kumasukkan ke dalam plastic hitam
untuk dibuang dan dibakar. Upaya menghilangkan jejak. Itulah yang sedang
kulakukan sekarang, dari pakaian, halaman depan, hingga lantai dapur ini;
kuupayakan tidak ada lagi jejak darah Stephen yang tercecer.
“Hey, Stephen. Apa kau mendengarku?
Hey!” , kutepuk pipinya dengan harapan dia tidak pingsan. Untunglah dia bisa
menggerakkan sedikit bibirnya. Kuraih air hangat ke mulutnya dan dia berusaha
untuk menelannya. Dengan susah payah kubawa dia ke kamarku. Setidaknya bebanku
agak berkurang karena yang kugotong bukan orang yang sedang pingsan.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~***********~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
05.30 AM
Hari sudah berganti dan Stephen masih
belum membuka matanya. Sempat terpikir untuk izin tidak masuk pada hari ini; tetapi,
kecurigaan akan timbul ketika tau Stephen juga tidak hadir. Apalagi kalau sudah
beredar rumor mengenai dia. Aduh, mual rasanya! Terpaksa aku membereskan file
dan bersiap membuat sarapan. Entah kenapa aku ingin menghidupkan televise pagi
ini. Sesekali menonton berita gossip selebriti ga ada salahnya, pikirku sambil
tersenyum geli. Baru kali ini aku merasakan suasana lain saat mempersiapkan
sarapan sambil menghidupkan televisi. Terkadang seperti orang gila dibuatnya,
tertawa sendiri melihat berita dan tingkah konyol selebritis itu dengan segala
sensasinya. Biasanya aku mempersiapkan sarapan untuk dibawa di perjalanan
sambil diburu oleh waktu. Jarang sekali ada kesempatan untuk sekedar santai di
depan televisi di rumah. Mungkin karena ingin mempersiapkan untuk “orang lain”
yang ada di rumah. Ya, mungkin saja. Ah…lagi-lagi aku tersenyum sendiri.
Entah kenapa aku meraih remote dan
mengganti saluran, mungkin karena sudah mulai bosan dengan selebritas itu.
Saatnya melihat berita serius yang berbobot.
“Berita
pagi ini. Telah terjadi keributan besar di sebuah café kawasan kota M pada
pukul 01.35 dini tadi. Keributan ini berasal dari pihak sekuriti yang lengah
dan membiarkan seorang pemuda menyusup di ruang ganti artis. Diduga pelaku
tersebut menyusup masuk dan menyerang salah satu artis disana. Menurut
keterangan saksi, artis tersebut diseret menuju pintu belakang; akan tetapi,
berhasil dicegah oleh seorang pemuda lain yang kemudian menjadi korban
penganiayaan pelaku.
Ketika
pihak keamanan hendak turun tangan, pelaku telah memanggil teman-temannya sehingga
menimbulkan keributan besar. Hingga kini, pemuda yang dianiaya beserta pelaku
tidak dapat diidentifikasi keberadaannya. Kini pihak kepolisian hendak
memeriksa teman-teman pelaku tersebut. Diduga mereka hanyalah preman yang
dibayar oleh pelaku.”
Sontak jantungku berdegub kencang. Café
di kota M? Jangan-jangan disitu tempat Stephen bekerja. Dia kutemukan di depan
pintu rumah sekitar jam 4 dini hari dengan keadaan babak belur. Call history
dimana dia berkali-kali berusaha menghubungiku dari dua jam sebelumnya.
Potongan-potongan puzzle tersebut berkerumun dan mengeroyok logika yang ada. Aku
berlari menuju kamar namun tidak kutemukan Stephen di atas ranjangku. Dengan
kalut aku mencari di penjuru rumah. Saat hendak kembali ke dapur aku terpeleset
dan terjatuh. Ada seseorang yang menyekap mulut dan hidungku dengan bius.
Siapa? Stephen, kamu dimana? Tolong……..
------------------------------------ ---------TO BE CONTINUED
-----------------------------------
Selasa, 04 Februari 2014
Invisible Cracks......Bagian Kedua
Kekalutan dan kecemasan memeluk erat pikiranku sekarang dan memaksa untuk
dimuntahkan sesegera mungkin. Gelap kurasa dunia yang berguncang ini. Sontak
aku menuju meja mereka dan bersiap untuk melabrak; namun, langkahku terhenti
oleh kehadiran Stephen di muka. Airmata sudah hampir meluap bersamaan dengan
amarah yang sudah dipendam sedari pagi.
"Barang ini mungkin bisa menyelamatkanmu...", katanya sambil
menyerahkan flashdisk. "Ditunggu ucapan terima kasihnya ya. Minimal
traktir aku makan malam ini".
Dengan keadaan setengah sadar aku mengecek isinya....dan VOILA! Semua data
yang kubutuhkan ada di dalamnya. Airmata yang tertahan pun tertumpah dengan
ucapan syukur....bukan umpatan. Baru saja mau mengucapkan, Stephen sudah
berangkat menuju meja pertemuan.
Ah, benar juga. Nanti saja dilanjutkan
perayaannya...di rumahku.
------------------------------------------------------****-------------------------------------------------
"Hanya sebatas ini, rasa terima kasihnya? Sudah dua kali loh aku
menyelamatkan hidupmu", sindirnya sambil terkekeh.
"Oh....tenang aja. Malam ini kamu akan kuberikan service lengkap dan
spesial, dengan syarat harus menginap".
"Aah, masakan harus menginap? Sudah ada janji dengan klien ku malam
ini, Gina. Ga bisa. Ntar rusak ladang periuk emasku. Hahaha!".
Si Stephen
ini dengan cueknya menolak tawaranku sambil menghabiskan lauk makan malam plus
Smoked Spicy Beef Tortilla kesukaannya. Belum lagi jus buah dan es krim yang
menunggu antrian dalam kulkas. Perut Sumur.
"Ehm, okee. Tapii...bukannya kamu harus memperhatikan keadaan kulitmu
sebagai penunjang kegiatan sampinganmu itu? Lihat...berapa banyak gula dan
lemak lainnya yang menumpuk di badanmu sekarang? Lihat wajahmu sekarang sudah
mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Kita sudah dua minggu ini harus
bergadang demi laporan saat meeting tadi pagi , kan? Kalau ga percaya, biar
kuambilkan cermin!"
Stephen terdiam sejenak lalu melanjutkan menghabiskan semua sesajen yang
ada di hadapannya....juga yang ada di dalam kulkas. Kubiarkan dia begitu sambil
melihatnya memasang wajah serius. Lima belas menit kemudian semua upeti dariku
telah habis disantapnya. Sepertinya dia masih berpikir dengan serius. Kalau
begitu, kutinggalkan saja dia sendiri sambil membereskan sisa-sisa makanan ini.
Tak lama berselang, aku merasa dia menempelkan wajahnya di pundakku dengan
manja.
"Kamu janji dengan klien jam berapa?".
"Jam 11 malam nanti....", jawabnya dengan lemah
.
"Ya sudah, ga usah menginap; tetapi tetap jalankan saja salah satu
service yang sudah kusiapkan khusus untukmu. Sebelum jam 9 sudah kelar kok,
janji deh".
Spontan Stephen langsung meraih cucian piring dan gelas untuk
dibereskan di rak. Setelah itu dia langsung menarikku meninggalkan dapur.
Buset, ga sabaran amat ini orang.
------------------------------------------------------****-------------------------------------------------
"Gimana, service ku yang sekarang kamu terima. Nyaman kan? Sesuai
kebutuhan , kan?"
"Asli. Memang ini yang kuperlukan. Thanks loh, Gin".
Kami tersenyum sambil bertatapan dan menikmati pijatan refleksi yang
menyelamatkan syaraf-syaraf tubuh lelah kami .
"Oh, God. Sudah satu bulan
tubuhku ga dimanja seperti ini. Surga bangeeettttt.....". Celotehan dia
akhirnya memancing senyum pegawai Spa ini.
"Mbak Stephanie beruntung
banget punya sobat seperti mbak Regina yang mengerti kebutuhan...sangat
perhatian".
"Denger tuh apa katanya
barusan. Kamu jangan itung-itungan sama aku yaa", ucapku menyindir
Stephanie....atau lebih dikenal sebagai Stephen.
"Aaah sudahlah. Jangan banyak ngedumel. Ntar rusak masker yang ada di
wajah". Sontak mbak-mbak pegawai itu pada cekikikan geli melihat
pertengkaran kecil kami barusan.
------------------------------------------------------****-------------------------------------------------
Mobil kuparkir di depan salah satu gedung Cafe tempat Stephen bekerja
sampingan.
"Kamu bukannya mau jumpa klien?
Kok ke cafe ini?".
"Iyaa, kliennya mau lihat aku perform dengan teman2. Kalau dirasa
cocok ya baru ada pembicaraan selanjutnya".
"Okelah, Good Luck ya. Jangan sampe berbuat hal-hal konyol. Kalau ada
tingkah laku yang mencurigakan kamu langsung aja kabur, jangan ikut-ikutan. Aku
gak mau denger berita kamu ketangkap ataupun terlibat masalah....". Belum
selesai aku berbicara, Stephen langsung memeluk erat sambil membisikkan pesan
kepadaku untuk tidak perlu mengkhawatirkan keadaannya.
Aku hanya bisa memperhatikan punggungnya yang pergi meninggalkan mobilku
menuju Cafe itu dengan terburu-buru. Jalanan sekitar masih sangat sepi. Wajar
saja, karena mobilku diparkir di pintu rahasia yang hanya orang tertentu saja
boleh melewatinya. Mengingat jenis pekerjaan yang dilakoni....kemanan cafe itu
bisa terjamin. Tapi, rasa khawatirku tetap saja menghantui.
Kalau bukan karena
latar kehidupannya yang memaksa Stephen a.k.a Stephanie mengambil jalur seperti
ini.
Ah, aku hanya bisa berharap dia bisa melewati hidupnya malam ini dengan
baik dan selamat.
---------------------------------------- TO BE CONTINUED
-------------------------------------------
Senin, 03 Februari 2014
Invisible Cracks.....Bagian Pertama
Ga ada SATUPUN makhluk di bawah kolong langit ini memiliki kesempurnaan 100%
"REGINA...!!!".....Ah...ayolah masih terlalu pagi buatku untuk meladeni ini lagi.
GUBRAK! Bunyi keras itu disambut dengan erangan dan hamburan coklat dan mawar di lantai keramik. Hatiku cukup iba untuk membiarkan hal ini. Kuulurkan tanganku sambil menyeka rambut sambil berharap orang ini baik-baik saja. Ah, tatapan ini lagi. Dia sepertinya tersihir dan melupakan rasa sakit dan kejadian bodoh barusan. Setelah membantu memposisikan badannya, sekonyong-konyong aku ditarik dan mataku berjarak hanya beberapa senti dari matanya. "Regina, aku...", PLAK!!!
Ku tinggalkan dia termangu dengan menahan perih di pipi...hadiah dariku. Ya...dia....salah satu dari, katanya, pengagum dan yang tak pernah lelah memberikan "perhatian" seperti tadi. Hadiah barusan, sepertinya bukan untuk pertama atau kedua kalinya kuberikan. ENGGA ADA KAPOK-KAPOKNYA! MUAK!
Aku melangkah menuju ruangan bagaikan tentara samurai yang siap menebas siapapun dan apapun penghalang di jalan.
Tapi...oh....tepat sekali, aku berjumpa dengan "tong sampahku" di persimpangan lorong menuju perpustakaan. Stephen.....sejenak termangu melihat keadaanku kemudian tersenyum. Keadaanku yang persis seperti kuda sehabis mengikuti track balapan selama beberapa kilometer jauhnya. "Repot ya, pagi2 sudah meladeni fans?" , katanya sembari membereskan penampilanku yang-sungguh-amat-sangat-ga-banget-plus-mengerikan. Rasanya nyaman....walau dia tidak menggunakan jurus rayuan maut atau banyak berbicara. Lalu dia menarik tanganku meninggalkan lorong menuju toilet. "Ayo, bereskan dulu penampilanmu sembari aku membelikan hot milktea kesukaanmu", Ah...Stephen memang tahu apa yang kusuka.
Seperti anak kecil....dengan patuhnya aku mengangguk dan ngacir ke dalam salah satu bilik untuk menyingkirkan sampah dan membereskan rambut serta bajuku. Benar-benar menjijikkan! Campuran kepingan coklat, kelopak mawar, ada di rambut, baju, serta tanganku! Argh! Inilah rentetan kejadian yang menjadi sumpahku...tidak akan terulang untuk kesekian kalinya. Tidak esok ataupun hari-hari lainnya...CUKUP!
"Aah....Regina mah emang gituuu! Doi pasti sombong karena kejadian tadi. Gila aja ya berani bener tampar dan menolak Juan, si cowo idaman kampus kita tadi pagi. Trus, hadiah yang dibawa diinjak2!! Iissh...kalau aku jadi dia gabakal nolak.". "Ahahaha, kamu mah sama siapa aja asalkan seperti Juan jadi koleksi juga gapapa kan?". "Iyaa, trus hadiah-hadiahnya bakal dijual lagi ke penadah supaya tambah modal". "Engga puas apa dengan uang saku dari si Om?"
Yupp....segerombolan cewe berisik tukang ngegossip mulai beraksi. Untung cepet2 kuambil recorder dan kurekam semua pembicaraan mereka. Mereka? Yak...dalam scene mereka adalah "Best Friend Forever-nya Regina"....tapi bagiku mereka adalah kutu-kutu. Hinggap ke tempat dimana mereka bisa menghisap darah sampai kenyang lalu loncat ke tempat lain sambil meninggalkan rasa gatal di tubuh induk semang. Simbiosis Parasitisme.
Dengan tenang kunikmati cercaan dan kicauan mereka sambil merekam dan membereskan penampilanku. Setelah mereka meninggalkan tempat barulah aku keluar mengendap-endap. Dan, Stephen sudah menunggu lama di lorong lain. "Kamu dengar semua omongan mereka pas di dalam?", tanya nya. "Yup, dan sudah kurekam seperti biasanya. Gila ya....Tuhan baik banget bisa sering mengatur moment kaya tadi. Hahhaha!". Stephen tidak tertawa...dia memandang dengan sinis lalu menghela nafas berat. "Nih, pesananmu...ada dapat bonus". Yess, hot milktea dengan bonus vanilla cream shake yang tebal diatasnya. Tidak memerlukan waktu lama bagiku untuk menghabiskan minuman favoritku itu...semacam candu.
Tak lama kami berjalan, akhirnya aku dan Stephen tiba di ruangan proyek praktek kami. Sebagai mahasiswa tingkat atas....kami sudah lumayan sering menghabiskan waktu untuk berdiskusi dan merancangkan penyelesaian tugas dari Tutor dalam ruangan khusus. Aku dan Stephen berada di ruangan yang sama namun berbeda bagian. Stephen di bagian Kreatif sedangkan aku, Regina, di bagian perencanaan.
"REGINAAA....!!!".
Ya, Tuhan ada apa hari ini? Tak bisakah aku tenang daripada suara dan intonasi seperti ini barang satu hariiiiii saja?
"REGINA! Kamu dari mana aja? Kupikir kamu sakit jadi ga masuk loohh".
"Loh, kok pikirannya gitu, Nes?".
"Denger-denger tadi pagi kamu jatoh karena si Juan",
"Eh...gimana ceritanya sih? Kalian habis ngapain ajaaaa?".
Agnes, Qania, dan Nila....trio rempong bin heboh ini berkicau lagi dengan kuantitas desibel yang tinggi.
Oh...kesabaranku mulai meluap dari tempatnya semenjak sindiran mereka di toilet tadi. "Terpeleset doang, kok", jawabku sambil mendekatkan gelas milktea ke mulutku. Tiba-tiba gelasku sudah direbut dan berpindah tangan ke Qania. "Hmm...pantesan aja kamu sering beli ini. Emang enak sih yaaa...Ahahahahaha!". Oh, astaga demi apapun itu. Lain kali kalau aku bawa ke hadapan mereka.....isinya sudah terlebih dahulu kucampur obat pencahar ekstra kuat.
"Ya udah, lain kali kubelikan juga buatmu", jawabku datar
"Eh, beneran yaa? Asikk...Regina baik bangeet!". Aku hanya menyambut dengan senyuman sinis. Baiklah...kita jalankan rencanaku besok.
Tak ingin menambah masalah, kuputuskan untuk mengambil segelas air dingin sambil menuju meja kerja. Masih ada beberapa menit sebelum koordinator proyek ini datang dan memulai meeting pagi yang membosankan. Mungkin masih ada beberapa yang bisa kukerjakan sebagai persiapan. Kuhempaskan tubuhku ke kursi dan menyalakan PC untuk membuka beberapa file yang sudah dipersiapkan sebagai laporan meeting nanti.
Tapi......dimana file-file itu?
Dengan panik aku mencari di recently open sampai ke recycle bin. Namun tidak ada satupun data yang kucari tertinggal manis didalamnya. TIDAK ADA SATUPUN
Entah kenapa aku mendengar suara cekikikan mereka bertiga sambil melirik ke arahku....lalu berlalu menjauh.
KALIAN.....!!!!!!!!
Ah....tamatlah aku! Tidak sampai 15 menit lagi pimpinan proyek datang!
-------------- TO BE CONTINUED ------------------
"REGINA...!!!".....Ah...ayolah masih terlalu pagi buatku untuk meladeni ini lagi.
GUBRAK! Bunyi keras itu disambut dengan erangan dan hamburan coklat dan mawar di lantai keramik. Hatiku cukup iba untuk membiarkan hal ini. Kuulurkan tanganku sambil menyeka rambut sambil berharap orang ini baik-baik saja. Ah, tatapan ini lagi. Dia sepertinya tersihir dan melupakan rasa sakit dan kejadian bodoh barusan. Setelah membantu memposisikan badannya, sekonyong-konyong aku ditarik dan mataku berjarak hanya beberapa senti dari matanya. "Regina, aku...", PLAK!!!
Ku tinggalkan dia termangu dengan menahan perih di pipi...hadiah dariku. Ya...dia....salah satu dari, katanya, pengagum dan yang tak pernah lelah memberikan "perhatian" seperti tadi. Hadiah barusan, sepertinya bukan untuk pertama atau kedua kalinya kuberikan. ENGGA ADA KAPOK-KAPOKNYA! MUAK!
Aku melangkah menuju ruangan bagaikan tentara samurai yang siap menebas siapapun dan apapun penghalang di jalan.
Tapi...oh....tepat sekali, aku berjumpa dengan "tong sampahku" di persimpangan lorong menuju perpustakaan. Stephen.....sejenak termangu melihat keadaanku kemudian tersenyum. Keadaanku yang persis seperti kuda sehabis mengikuti track balapan selama beberapa kilometer jauhnya. "Repot ya, pagi2 sudah meladeni fans?" , katanya sembari membereskan penampilanku yang-sungguh-amat-sangat-ga-banget-plus-mengerikan. Rasanya nyaman....walau dia tidak menggunakan jurus rayuan maut atau banyak berbicara. Lalu dia menarik tanganku meninggalkan lorong menuju toilet. "Ayo, bereskan dulu penampilanmu sembari aku membelikan hot milktea kesukaanmu", Ah...Stephen memang tahu apa yang kusuka.
Seperti anak kecil....dengan patuhnya aku mengangguk dan ngacir ke dalam salah satu bilik untuk menyingkirkan sampah dan membereskan rambut serta bajuku. Benar-benar menjijikkan! Campuran kepingan coklat, kelopak mawar, ada di rambut, baju, serta tanganku! Argh! Inilah rentetan kejadian yang menjadi sumpahku...tidak akan terulang untuk kesekian kalinya. Tidak esok ataupun hari-hari lainnya...CUKUP!
"Aah....Regina mah emang gituuu! Doi pasti sombong karena kejadian tadi. Gila aja ya berani bener tampar dan menolak Juan, si cowo idaman kampus kita tadi pagi. Trus, hadiah yang dibawa diinjak2!! Iissh...kalau aku jadi dia gabakal nolak.". "Ahahaha, kamu mah sama siapa aja asalkan seperti Juan jadi koleksi juga gapapa kan?". "Iyaa, trus hadiah-hadiahnya bakal dijual lagi ke penadah supaya tambah modal". "Engga puas apa dengan uang saku dari si Om?"
Yupp....segerombolan cewe berisik tukang ngegossip mulai beraksi. Untung cepet2 kuambil recorder dan kurekam semua pembicaraan mereka. Mereka? Yak...dalam scene mereka adalah "Best Friend Forever-nya Regina"....tapi bagiku mereka adalah kutu-kutu. Hinggap ke tempat dimana mereka bisa menghisap darah sampai kenyang lalu loncat ke tempat lain sambil meninggalkan rasa gatal di tubuh induk semang. Simbiosis Parasitisme.
Dengan tenang kunikmati cercaan dan kicauan mereka sambil merekam dan membereskan penampilanku. Setelah mereka meninggalkan tempat barulah aku keluar mengendap-endap. Dan, Stephen sudah menunggu lama di lorong lain. "Kamu dengar semua omongan mereka pas di dalam?", tanya nya. "Yup, dan sudah kurekam seperti biasanya. Gila ya....Tuhan baik banget bisa sering mengatur moment kaya tadi. Hahhaha!". Stephen tidak tertawa...dia memandang dengan sinis lalu menghela nafas berat. "Nih, pesananmu...ada dapat bonus". Yess, hot milktea dengan bonus vanilla cream shake yang tebal diatasnya. Tidak memerlukan waktu lama bagiku untuk menghabiskan minuman favoritku itu...semacam candu.
Tak lama kami berjalan, akhirnya aku dan Stephen tiba di ruangan proyek praktek kami. Sebagai mahasiswa tingkat atas....kami sudah lumayan sering menghabiskan waktu untuk berdiskusi dan merancangkan penyelesaian tugas dari Tutor dalam ruangan khusus. Aku dan Stephen berada di ruangan yang sama namun berbeda bagian. Stephen di bagian Kreatif sedangkan aku, Regina, di bagian perencanaan.
"REGINAAA....!!!".
Ya, Tuhan ada apa hari ini? Tak bisakah aku tenang daripada suara dan intonasi seperti ini barang satu hariiiiii saja?
"REGINA! Kamu dari mana aja? Kupikir kamu sakit jadi ga masuk loohh".
"Loh, kok pikirannya gitu, Nes?".
"Denger-denger tadi pagi kamu jatoh karena si Juan",
"Eh...gimana ceritanya sih? Kalian habis ngapain ajaaaa?".
Agnes, Qania, dan Nila....trio rempong bin heboh ini berkicau lagi dengan kuantitas desibel yang tinggi.
Oh...kesabaranku mulai meluap dari tempatnya semenjak sindiran mereka di toilet tadi. "Terpeleset doang, kok", jawabku sambil mendekatkan gelas milktea ke mulutku. Tiba-tiba gelasku sudah direbut dan berpindah tangan ke Qania. "Hmm...pantesan aja kamu sering beli ini. Emang enak sih yaaa...Ahahahahaha!". Oh, astaga demi apapun itu. Lain kali kalau aku bawa ke hadapan mereka.....isinya sudah terlebih dahulu kucampur obat pencahar ekstra kuat.
"Ya udah, lain kali kubelikan juga buatmu", jawabku datar
"Eh, beneran yaa? Asikk...Regina baik bangeet!". Aku hanya menyambut dengan senyuman sinis. Baiklah...kita jalankan rencanaku besok.
Tak ingin menambah masalah, kuputuskan untuk mengambil segelas air dingin sambil menuju meja kerja. Masih ada beberapa menit sebelum koordinator proyek ini datang dan memulai meeting pagi yang membosankan. Mungkin masih ada beberapa yang bisa kukerjakan sebagai persiapan. Kuhempaskan tubuhku ke kursi dan menyalakan PC untuk membuka beberapa file yang sudah dipersiapkan sebagai laporan meeting nanti.
Tapi......dimana file-file itu?
Dengan panik aku mencari di recently open sampai ke recycle bin. Namun tidak ada satupun data yang kucari tertinggal manis didalamnya. TIDAK ADA SATUPUN
Entah kenapa aku mendengar suara cekikikan mereka bertiga sambil melirik ke arahku....lalu berlalu menjauh.
KALIAN.....!!!!!!!!
Ah....tamatlah aku! Tidak sampai 15 menit lagi pimpinan proyek datang!
-------------- TO BE CONTINUED ------------------
Langganan:
Postingan (Atom)