Pertama kalinya ulangtahun di rumah orang.....di kota orang.....di tengah-tengah keluarga orang.....tanpa ada dihiasi celotehan dan tepukan khas di pipi dari papa, mama, abang, sobat genkz, dan teman sepelayanan.....
Pertama kalinya di tanggal 19 Agustus merasa kosong.....nyampe rumah cuma bisa bengong memandang layar handphone.....karena yang dihubungi sedang sibuk. Akhirnya tertidur dengan bantal yang basah
kemudian di hari H
menghela nafas, membentuk senyum semampunya, menutup mata yang sembab lalu berkata lirih.....
"Terimakasih atas hari ini, Tuhan. Terimakasih atas pertambahan usia yang ke-28 ini"
Bukannya tidak mau bersyukur....
Hanya saja terasa seperti berada dalam ruangan kosong dan tak berangin.....kering
Mungkin ini pergerakan zombie yang berjalan tanpa berpikir hanya mengikuti insting buta
Apapun yang kulakukan di hari itu hanyalah seperti disetel mesin
Tersenyum seperti yang sudah diprogramkan
Berkata seperti yang sudah dikonsepkan
Tidak hidup
Setiba di rumah, rupanya sudah dibuat jamuan khusus untukku....sungguh terasa terharu.....tapi yang di benakku tetaplah ada mereka duduk bersama. Bukan bertiga seperti ini
Tuhanku, begitu banyak keluhanku hari ini......
Dari wajahku pasti sudah terpancar bahwa ada rasa sedih dibalik senyum seadanya
Kurasakan mood sekitarku tidak ceria
Maaf, karena aku....
Layar handphone berhasil berusaha menjebol pertahananku seharian ini
Papa bilang, mama pagi-pagi sudah nangis dan membuat papa panik
Mama teringat hari ini aku berulangtahun.....dan aku tidak berada di tengah-tengah mereka kini
Sungguh, sekuat tenaga kutahan suara batinku yang rapuh di kamar
Tidak mungkin ku putarkan nomor itu sekarang
Yang ada malah merusak suasana
Setelah tenang, barulah kuhubungi mama
Dengan suara ceria mama menyambutku, sungguh hariku yang tadinya dinaungi mendung mendadak muncul matahari yang cerah! Betapa ku rindu rumah, ma...pa...betapa kuingin disana sekarang
Cukuplah kado yang kuterima hari ini....
Memang benar
Jarak dan waktu tidak berarti bila orang-orang yang terpisah darimu itu selalu di hati
Sungguh cukup mendengar suara dan mendapat kabar
Sambil menunggu hari akan bertemu
Semakin kuat ikrar ku akan hari ini
Akan ku genggam sukses itu disini, di Jakarta ini
Pantang aku pulang kalau tidak membawa kebanggaan buat papa mama....keluarga kita
Kamis, 24 Maret 2016
Kamis, 30 Oktober 2014
GAUL...boleh ga yaa...???
PENDAHULUAN
Gaul adalah
istilah yang sangat akrab di telinga kita dan biasanya popular di kalangan para
remaja. Kalo ga gaul, berarti ga keren, ga up2date, ketinggalan, cupu, dan
banyak istilah lainnya yang menggambarkan betapa “gaul” itu seolah-olah sudah
menjadi keharusan bagi mereka (remaja).
Remaja atau teruna; dalam istilah bahasa inggris disebut teens, teenager. Dalam KBBI remaja memiliki definisi “mulai
beranjak dewasa”, a juvenile between the onset of puberty and
maturity (Kamus Thesaurus). Dengan kata lain, remaja adalah
masa dimana seseorang meninggalkan usia, masa, dan kebiasaan anak-anak menuju
kedewasaan awal. Ciri khas yang terlihat dari tahap ini adalah dari pertumbuhan
fisik hingga gaya yang mereka ekspresikan; mulai dari cara berbicara, cara
berpakaian, hobby yang diminati, dsb.
Kamus besar Bahasa Indonesia menyatakan bahwa: ga· ul , ber· ga· ul ; adalah bermakna sebagai hidup berteman
(bersahabat). Sedangkan dalam kamus Seasite gaul itu adalah berteman ; berhubungan baik
dengan orang lain. Dalam kamus Thesaurus, bergaul
yaitu berbaur, bercampur, berkawan, berkenalan, bersosialisasi, bersahabat,
bersatu, berteman, merasuk;
Nah, kalau kita lihat pemaparan dari ketiga sumber diatas dapat diambil simpulan bahwa gaul memiliki unsur adanya “aktivitas sosial”. Seperti pernyataan oleh seorang filsuf terkenal dari Yunani yaitu Aristoteles yang mengatakan bahwa, “Manusia adalah
makhluk
sosial / zoon politicon. Tidak mungkin dapat hidup di dunia ini sendirian;
tanpa membutuhkan kehadiran oranglain. Individu yang bergerak dalam aktivitas
sosial dengan individu lain yaitu seseorang yang tinggal di dalam populasi saling berinteraksi dan
menguntungkan untuk masyarakat.
Setelah melihat pemaparan di atas, bisa kita ambil simpulan bahwa gaul /
pergaulan itu memiliki makna ” Aktivitas sosial oleh satu orang (individu)
dengan individu lain atau dalam suatu kelompok yang saling : berkomunikasi
,berhubungan baik , dan mempengaruhi”. Lingkungan sekitar seseorang
turut mengambil peran dalam pembentukan sikap dan tingkah lakunya sehari-hari (
karakter ); walau tidak dapat dipungkiri bahwa faktor bawaan sudah ada menjadi
ciri khas.
Oleh karena itu, kita wajib mengetahui pergaulan yang dapat memberi efek
positif dan negatif bagi diri kita sendiri. Tidak dapat dipungkiri jika kita
berada dalam lingkungan pergaulan yang positif
dan saling membangun akan memacu kita untuk menjadi pribadi yang lebih
baik. Begitu pula sebaliknya apabila kita memilih untuk berada di lingkungan
pergaulan yang negatif; entah kita memang benar-benar terlibat di dalamnya atau
hanya sekedar “lewat”, dampaknya akan imbas ke diri kita pula ( mau tidak mau).
Contoh pergaulan yang positif yakni berada di kelompok sosial yang
memiliki kebiasaan untuk rajin belajar, memiliki minat yang sama dalam bidang
mata pelajaran tertentu (English club, Diskusi Ilmiah, dll), tidak segan untuk
sharing serta mau menjaga rahasia, tidak segan menegur apabila ada kawan yang
salah, tetap melakukan hal-hal yang menyenangkan bersama-sama tanpa melanggar
aturan yang ada.
Sedangkan contoh pergaulan
yang negatif ; atau istilah lainnya adalah “salah gaul” , yakni apabila
lingkungan sosialnya tidak membentuk kita menjadi pribadi yang lebih baik malah mencoba untuk menjerumuskan.
Sikap dan perilaku yang ditunjukkan anggotanya kurang membangun. Kebiasaan
memfitnah , menghakimi, atau membicarakan kehidupan pribadi oranglain, tingkah
laku yang sering menimbulkan konflik, mendorong untuk melakukan tindakan
berbahaya / melanggar peraturan yang ada ; imbasnya akan membahayakan diri
kita, anggota kelompok itu sendiri serta
oranglain yang ada di sekitar.
GIMANA
CARANYA JADI ANAK GAUL??
Mungkin menjadi pertanyaan besar dalam benak kita tentang gaul yang baik
dan benar, atau malah mempertanyakan boleh atau tidaknya remaja itu gaul. Gaul
itu boleh-boleh saja. Jangan sampai kita menutup diri terhadap semua
kemungkinan-kemungkinan yang ada untuk membangun kita menjadi pribadi yang baik
hanya karena takut “salah gaul”. Yang patut diperhatikan adalah kita tahu betul
mana yang baik dan mana yang tidak boleh ditiru. Pada prinsipnya adalah, kita
menyayangi diri kita sendiri. Kita mau dan mampu menjaga diri sendiri dari efek
negative yang datang dari dalam ataupun dari luar.
Mengapa remaja ingin tampil gaul? Remaja berani berkesperimen dengan gaya
hidup serta berpakaian yang dirasakan menambah nilai diri ( istilahnya “keren”)
terhadap lingkungan sekitarnya. Menurut seorang ahli Erikson (dalam Agustiani,
H. Psikologi Perkembangan. 2009.33) ,
seorang remaja sangat membutuhkan makna tentang kehadiran dirinya bagi orang
lain. Karena itu keinginan untuk diakui, upaya peningkatan rasa percaya diri,
serta kemandirian adalah hal yang mereka ingin raih. Kalau tidak mengikuti
perkembangan akan dicap anak “Cupu”, “Ga Gaul”, “Kamseupay” , dsb.
Remaja ingin tampil gaul karena adanya harapan dalam diri atapun dari
luar diri mereka yang diwujudnyatakan dengan cara :.......
Ingin membaca artikel ini lebih lengkap? Silahkan isi permohonan di kolom komen sertai alamat email atau facebook untuk saya kirim artikel lengkapnya :)
sumber : Google, Wikipedia, Materi pembinaan Pelkat Teruna GPIB Marturia oleh Erni Murniarti, M.Pd , Psikologi Perkembangan oleh H. Agustiani, Psikologi Umum oleh Abu Ahmadi edisi Revisi, Materi pembinaan Pelkat Gerakan Pemuda GPIB Marturia oleh Johan Tumanduk
Kamis, 21 Agustus 2014
Johanna Margaretha: Catatan ke 27 tahun
Johanna Margaretha: Catatan ke 27 tahun: Hari ini....tidak....lebih tepatnya minggu ini...adalah saat2 dimana tumben tumbennya aku banyak merenung dan bengong yang ada di benak ad...
Rabu, 20 Agustus 2014
Catatan ke 27 tahun
Hari ini....tidak....lebih tepatnya minggu ini...adalah saat2 dimana tumben tumbennya aku banyak merenung dan bengong
yang ada di benak adalah, "Gilak udah 27 tahun ! Sudah berbuat apa aja aku selama hidup belakangan ini?".....aku mencoba untuk mengingat SE-MU-A hal...tapi otakku terlalu lemah untuk itu
kalau bisa dibilang otakku seperti nge-hang
namun, semua berubah di saat malam ini kami mengadakan ibadah syukur bersama GP'ers dan kuartet kwek-kwek di rumah
Papa.....yang selama ini ternyata memperhatikanku dalam diam, menyatakan hal yang tak kusangka dan hampir menjebol bendungan airmataku
"Johanna, anak kami yang kami perhatikan selama ini....kami ga tau persis apa pergumulannya.... pergumulan pribadinya....tapi yang kami lihat dia tidak pernah mencoba menghindar....dia selalu hadapi....dengan ketekunan dia tetap menjalani semua pergumulannya"
Pa, Ma......maaf kalau akhir-akhir ini aku jarang share lagi dengan papa dan mama.....kalaupun ada itu hanya sekedar hal-hal yang berkaitan dengan pendidikanku saja. Sesungguhnya ada begitu banyak beban yg kusimpan dalam hati dan terpaksa itu semua kulakukan supaya papa dan mama ga kepikiran dan terlalu khawatir denganku
Sebenarnya sudah beribu kali aku ingin menyerah.....aku berusaha meminta pertolongan dari Tuhan dalam diam untuk meredakan rasa gemetar dalam diri saat menempuh pergumulan dan omongan negatif orang terhadapku selama ini. Melihat kondisi papa dan mama yang semakin hari semakin lemah...membuatku tak tega melontarkan keluhan yang sebenarnya selama ini ingin kuteriakkan. Oleh karena itu, selama ini Butet selalu menampilkan sosok yang tegas, idealis, dan mungkin sering memberikan statement keras. Butet ga mau memperlihatkan kelemahan dan rasa gemetar ini di hadapan papa dan mama....
Pa, Ma.....sudah 27 tahun ini kulihat papa dan mama sudah susah payah memperjuangkan hidup keluarga kita dan sampai sekarang belum memberikan bantuan yang berarti. Butet hanya bisa menyumbangkan bantuan berupa tidak berbuat yang macam-macam dalam pergaulan.....termasuk yaa itu....berusaha untuk menghadapi pergumulan pribadi yang senantiasa kualami tanpa harus membebani papa dan mama. Setiap hari Butet hanya bisa berdoa agar papa dan mama ditambahkan umurnya minimal 10 tahun....10 tahun saja....agar bisa melihat kami sukses, memiliki keluarga, sempat menimang cucu, pokoknya disempatkan melihat kami sekedar membalas semua kasih sayang dari papa dan mama
Pa Ma....maaf kalau Butet telat membahagiakan papa dan mama jika dibandingkan teman2 sebayaku yang sudah bekerja dengan mapan dan memiliki keluarga baru.....Semoga Tuhan sudi mengabulkan doaku yang ingin membahagiakan papa dan mama serta membanggakan seluruh keluarga kita di saat papa dan mama masih hidup dan kuat berdiri
yang ada di benak adalah, "Gilak udah 27 tahun ! Sudah berbuat apa aja aku selama hidup belakangan ini?".....aku mencoba untuk mengingat SE-MU-A hal...tapi otakku terlalu lemah untuk itu
kalau bisa dibilang otakku seperti nge-hang
namun, semua berubah di saat malam ini kami mengadakan ibadah syukur bersama GP'ers dan kuartet kwek-kwek di rumah
Papa.....yang selama ini ternyata memperhatikanku dalam diam, menyatakan hal yang tak kusangka dan hampir menjebol bendungan airmataku
"Johanna, anak kami yang kami perhatikan selama ini....kami ga tau persis apa pergumulannya.... pergumulan pribadinya....tapi yang kami lihat dia tidak pernah mencoba menghindar....dia selalu hadapi....dengan ketekunan dia tetap menjalani semua pergumulannya"
Pa, Ma......maaf kalau akhir-akhir ini aku jarang share lagi dengan papa dan mama.....kalaupun ada itu hanya sekedar hal-hal yang berkaitan dengan pendidikanku saja. Sesungguhnya ada begitu banyak beban yg kusimpan dalam hati dan terpaksa itu semua kulakukan supaya papa dan mama ga kepikiran dan terlalu khawatir denganku
Sebenarnya sudah beribu kali aku ingin menyerah.....aku berusaha meminta pertolongan dari Tuhan dalam diam untuk meredakan rasa gemetar dalam diri saat menempuh pergumulan dan omongan negatif orang terhadapku selama ini. Melihat kondisi papa dan mama yang semakin hari semakin lemah...membuatku tak tega melontarkan keluhan yang sebenarnya selama ini ingin kuteriakkan. Oleh karena itu, selama ini Butet selalu menampilkan sosok yang tegas, idealis, dan mungkin sering memberikan statement keras. Butet ga mau memperlihatkan kelemahan dan rasa gemetar ini di hadapan papa dan mama....
Pa, Ma.....sudah 27 tahun ini kulihat papa dan mama sudah susah payah memperjuangkan hidup keluarga kita dan sampai sekarang belum memberikan bantuan yang berarti. Butet hanya bisa menyumbangkan bantuan berupa tidak berbuat yang macam-macam dalam pergaulan.....termasuk yaa itu....berusaha untuk menghadapi pergumulan pribadi yang senantiasa kualami tanpa harus membebani papa dan mama. Setiap hari Butet hanya bisa berdoa agar papa dan mama ditambahkan umurnya minimal 10 tahun....10 tahun saja....agar bisa melihat kami sukses, memiliki keluarga, sempat menimang cucu, pokoknya disempatkan melihat kami sekedar membalas semua kasih sayang dari papa dan mama
Pa Ma....maaf kalau Butet telat membahagiakan papa dan mama jika dibandingkan teman2 sebayaku yang sudah bekerja dengan mapan dan memiliki keluarga baru.....Semoga Tuhan sudi mengabulkan doaku yang ingin membahagiakan papa dan mama serta membanggakan seluruh keluarga kita di saat papa dan mama masih hidup dan kuat berdiri
Sabtu, 05 Juli 2014
SEKARANG ATAU LIMA PULUH TAHUN LAGI
Headline diatas pasti
mengingatkan kita dengan judul lagu pop yang sempat popular beberapa tahun lalu
; serta telah beberapa kali di recycle dan di cover oleh penyanyi-penyanyi lain
di tahun berikutnya. Akan tetapi, yang akan saya torehkan dalam tulisan kali
ini tidak akan mengulas lebih dalam mengenai arti dan interpretasi lagu
tersebut menurut pandangan pribadi; hanya saja sedikit banyak terinspirasi
daripada lirik lagunya.
Pertama-tama yang
terlintas dalam benak saya adalah…..waktu tidak pernah berjalan mundur atau
menunggu kita yang sedang berjalan di dalamnya. Tidak pernah kutemui adanya hal
yang sama persis ; antara hal-hal yang
kutemui kemarin dengan hal-hal yang ditemui hari ini, pun saya tidak mengetahui
hal-hal apa yang AKAN ditemui esok. Kecuali, sesuai dengan kata orang bijak,
ketika saya memutuskan untuk diam sementara rentetan waktu terus melaju ke
depan.
Apapun pengalaman
yang telah terjadi tentu akan tersimpan, mau tidak mau, sadar tidak sadar, hal
itu tidak mungkin dilupakan…hanya tersimpan; apakah jauh ke dalam alam bawah
sadar atau tetap dalam pikiran kita. Mungkin kita pernah mengalami dimana
dengan sekuat tenaga memberikan sugesti untuk melupakan sesuatu ; akan tetapi
di waktu yang tidak terduga hal tersebut muncul ke permukaan karena adanya
suatu pemicu yang tidak kita sadari. Perasaan dan kesan yang kita dapat selama
menempuh suatu pengalaman hidup sering membekas dan sulit untuk hilang sama
sekali. Termasuk pengalaman bertemu dengan orang yang kita kasihi.
Saya percaya bahwa
setiap manusia telah disiapkan pasangannya masing-masing. Akan tetapi, Tuhan
menempatkan kita ke dalam suatu “proses” kepada kita melalui orang-orang yang
kita temui untuk belajar “mengenali dia” , terlebih-lebih “mengenali diri kita
sendiri” melalui pengalaman kita bersama “dia”. Interaksi yang berjalan secara
intens dengan segala warna dinamika , sesungguhnya akan memberikan pengalaman
yang berbeda setiap harinya.
Satu per satu orang
yang kita kasihi mungkin datang secara silih berganti; hingga pada akhirnya
kita menemui seseorang yang kita yakini bahwa , DIALAH ORANG YANG KIRANYA TELAH
DIPERSIAPKAN TUHAN UNTUK MENJADI PENDAMPING HIDUPKU. Ketika kita telah
berkomitmen bahwa hanya dialah yang menjadi satu-satunya alasan kegirangan kita
dalam berbagi setiap segi kehidupan dalam ikatan keluarga yang utuh. Sepertinya
suatu lagu wajib bagi calon pasangan dan pasangan tersebut untuk menyanyikan
lagu yang menjadi headline ini :-D.
Akan tetapi, saya
memiliki pandangan yang sedikit berbeda. Saya tidak ingin tetap sama seperti
sekarang ini. Saya tidak ingin tetap memiliki kadar perasaan yang sama seperti
saat pertama kali saya bertemu dan meyakini bahwa “kamu” adalah “aku”. Waktu
terus berjalan dan tidak mau menunggu.
Saya ingin “kita” ikut berjalan dan mungkin berlari bersama waktu….saya tidak
ingin kita hanya “diam”.
Saya ingin rasa cinta
dan kasih saya semakin bertambah setiap harinya, setiap bulannya, setiap
tahunnya. Saya ingin kita semakin tambah mengenal dan tak segan menunjukkan
kelemahan kita setiap harinya, setiap bulannya, setiap tahunnya. Saya ingin
kita tambah mengenal dan melengkapi setiap harinya, setiap bulannya, setiap
tahunnya. Saya ingin semakin diperkaya dengan pengalaman melihat perkembangan
buah hati kita bersama-sama setiap harinya, setiap bulannya, setiap tahunnya.
Mungkin hal yang akan
menyebabkan kita terdiam adalah ketika kelelahan menyerang dan memaksa kita
untuk istirahat sejenak. Sejenak. Tidak ingin berlama-lama.
Diam akan menjadi
teman adalah ketika salah satu diantara kita terlalu jauh untuk menggandeng
tangan dan berjalan bersama-sama. Ketika salah satu harus pindah ke tautan
waktu yang berbeda dengan dunia fana. Ketika salah satu hanya bisa berjalan dan
berlari sendirian….sambil menggenggam tanggung jawab serta kasih daripada buah
hati yang menjadi pelipur lara. Ketika hanya salah satu yang tinggal dan
menggenggam erat kenangan yang diam dan memeluk rindu.
Sekarang, esok, tahun
depan, dasawarsa berikutnya….tidak akan sama. Waktu selalu menggandeng
perubahan.
Selasa, 04 Maret 2014
INVISIBLE CRACKS.....Bagian Empat
Tididid….Tididid…Tididid….
“ Argh, menyebalkan
sekali suara alarm ini membuat kepalaku pusing”, gumamku sambil menggosokkan
mata. Tiba-tiba aku teringat akan Stephen dan kejadian semalam. Sontak badanku
seperti melompat dari tempat tidur. “Apa? Aku sudah diatas tempat tidur?”,
alangkah kagetnya saat kulihat jam alarm sudah menunjukkan pukul 05.30 pagi.
Apa-apaan ini? Bukankah seharusnya tidak seperti ini? Bukankah seharusnya aku
sedang mencari Stephen dan terjatuh di dapur? Siapa yang membiusku? Segala teka-teki
itu membuat kepalaku berdenyut nyeri. Kuraih handphone ku dan memutuskan untuk
tidak hadir pada hari ini…kepalaku sakit sekali. Aku perlu waktu untuk
meluruskan yang sudah kualami tadi. Badanku terasa lemas .
Ah….aku memang
membutuhkan istirahat dari segala rutinitasku yang harus bertemu dengan
orang-orang yang menyebalkan itu. Menjauhkan diri dari segala tugas-tugas dan
segala tatapan yang mengganggu itu barang sehariiii saja. Baiklah, hari ini aku
akan membusuk disini. Hanya untuk hari ini.
Setengah jam
berlalu dan aku hanya membolak-balikkan badan dengan gelisah. Merasa tidak
tahan , akhirnya kuputuskan mencuci seprai dan membereskan rumah; ini lebih
baik daripada hanya bengong dan tidak melakukan sesuatu.
---------------------------------**********------------------------------------------
Aku merasa bangga
dengan hasil kerjaku di rumah ini. Rumah yang selama ini jarang mendapat
“sentuhan” kini terasa sangat luas, bersih, jauh lebih nyaman dari sebelumnya.
Senyuman lebarku seketika menghilang saat aku melihat bungkusan hitam di tong
sampah. Dengan hati-hati aku menghampiri dan membuka isinya. Rupanya aku masih
merasa penasaran dengan kejadian itu.
Ternyata yang
kutemukan bukanlah pakaian Stephen semalam atau kain yang kugunakan untuk
membersihkan “jejak”; melainkan tumpukan sampah dari dua hari yang lalu, yang
belum sempat kubakar. Jidatku berkerut dan mulai merasa nyeri. Apa maksudnya
semua ini? Masakan aku hanya bermimpi? Kucoba meraih tangan dan kakiku untuk
melihat apakah ada tanda-tanda memar karena terjatuh. Tidak ada yang kutemukan.
Ah, berarti itu hanya mimpi. Aku mencoba mengulangi kata-kata tersebut untuk
membentuk suatu sugesti. Yap, ha-nya mim-pi.
Setelah membereskan
rumah aku membereskan badan ini yang sudah mulai membusuk. Hahaha….lega rasanya
sudah mengeluarkan keringat karena melakukan aktivitas yang menenangkan jiwa.
Barulah semua sampah-sampah yang ada kubawa ke depan untuk dibakar.
“Rajin sekali
pagi-pagi membereskan rumah!”, “Ahaha…sesekali bu. Rumah ini sudah hampir
berbulan-bulan tidak terurus”. Ibu Emi, tetanggaku sedang menyapu halaman dan
melihat seorang gadis yang selama ini jarang telihat. Mungkin saja ibu Emi
merasa heran dengan diriku yang berangkat dari rumah saat pagi-pagi buta dan
pulang ketika malam hari menjelang. Akupun menyapa Pak Bram yang sedang santai
di teras rumahnya. Namun, aku merasa harus mampir kesana.
Setelah kuperiksa
dan kukunci semua pintu dan jendela rumah, kuputuskan untuk ke tetangga yang
sudah seperti orangtuaku. Bapak Bram dan Ibu Emi pun menyambut kedatanganku
dengan hangat. Kami mengobrol dengan lancar sambil menyantap sarapan pagi
buatan ibu Emi. Ah, kehangatan ini sangat kurindukan. Semenjak hari itu….
Alangkah
terkejutnya saat aku melihat Koran pagi yang sedang dibaca pak Bram. Mungkin
karena melihat wajahku yang penasaran, pak Bram menyodorkan Koran itu untuk
kubaca.
Café di kota M
Dikelilingi PoliceLine dan Melumpuhkan Kegiatan Operasional Sementara
“Telah
terjadi keributan besar di sebuah café kawasan kota M pada pukul 01.35 dini
tadi. Keributan ini berasal dari pihak sekuriti yang lengah dan membiarkan
seorang pemuda menyusup di ruang ganti artis. Diduga pelaku tersebut menyusup
masuk dan menyerang salah satu artis disana. Menurut keterangan saksi, artis
tersebut diseret menuju pintu belakang; akan tetapi, berhasil dicegah oleh
seorang pemuda lain yang kemudian menjadi korban penganiayaan pelaku.
Ketika
pihak keamanan hendak turun tangan, pelaku telah memanggil teman-temannya
sehingga menimbulkan keributan besar. Hingga kini, pemuda yang dianiaya beserta
pelaku tidak dapat diidentifikasi keberadaannya. Kini pihak kepolisian hendak
memeriksa teman-teman pelaku tersebut. Diduga mereka hanyalah preman yang
dibayar oleh pelaku.”
PERSIS!
“Ada apa, nak?
Kenapa wajahmu seperti itu?”, suara pak Bram menyadarkanku dari lamunan. Ibu
Emi menatapku dengan wajah yang terheran-heran. “Berita ini menarik.
Saya….merasa seperti menonton cuplikan adegan film detektif. Hahaha!”, aku
mencoba menjawab seadanya agar tidak menimbulkan kecurigaan. Kami melanjutkan
obrolan hingga menjelang siang hari. Rasanya tidak enak kalau berlama-lama
disini.
Dalam perjalanan
menuju pintu rumah, kepalaku kembali berkecamuk dengan potongan-potongan puzzle
ini. Sugesti yang sudah susah payah kubangun sepertinya harus ditepis. Dari
dalam rumah kudengar suara televisi yang menyala. Aku berlari menuju pintu
belakang yang sekonyong-konyong sudah terbuka. Astaga, apa lagi ini?!
Jantungku serasa
mau melompat saat kulihat sosok pemuda yang mengobrak-abrik lemari es dapur.
“Stephen??”
“Oh, Hai! Aduh!”, kepala Stephen terbentur rak
lemari es karena terlalu terburu-buru menyapaku. “Kenapa kamu tidak hadir hari
ini?”. Pertanyaan yang aneh, pikirku. Aku mulai merancang suatu kecurigaan
padanya.
“Sesekali ingin
menjauh dan membereskan “sesuatu””, jawabku sambil mengangkat bahu.
“Yeah, bisa kulihat
rumahmu jauh lebih tertata rapi dan….sesekali bersosialisasi dengan tetangga
itu tidak salah kok”, jawabnya sambil melengkungkan cengiran khas Stephen.
“Berarti kamu sudah
lama disini. Kenapa tidak nimbrung saja tadi?”
“Males ah, obrolan
orangtua”
Sial.
“Jangan cemberut
gitu, Gina. Manismu ntar berkurang loh. Tuh, kubawakan makanan dan minuman
kesukaanmu; PLUS buah-buahan. Eh, tapi kayaknya buah sekeranjang itu kutarik
deh…kukira kamu sakit”
“Terserah”, jawabku
sambil berlalu menuju ruang tengah.
Tanganku ditarik Stephen dan dia
mendekatkan dahinya di dahiku. Cukup lama.
“Ah…aku tidak
berhasil membaca pikiranmu”
“Apa maksudmu?”
“Ada sesuatu yang
ingin kamu katakan padaku?”, dia berkata seperti itu sambil tersenyum.
Sialan.
Bukankah terbalik, seharusnya kamu yang menceritakan “sesuatu” padaku? Tentang
kejadian semalam….setelah aku mengantarmu bekerja. Apa yang terjadi di Café
itu?
Tidak ada sepatah
katapun yang terucap dari mulutku. Aku hanya menurunkan sudut bibir dan
menaikkan bahu. “Entahlah, aku hanya merasa lelah. Ingin bermalas-malasan saja
hari ini. Seperti yang kubilang tadi, ingin menjauh dan membereskan “sesuatu” ”.
Aku merasa sangat kecewa dengan kelakuan Stephen…..dan kelakuanku barusan. Kami
seperti bermusuhan. Ah..situasi yang sangat MENYEBALKAN!
“Baju itu….”
Astaga, aku baru
sadar kalau sedang memakai kemeja Stephen. Kemeja bulukan yang tidak sudi
dipakainya. Kemeja ini kuanggap seperti piyama yang sangat nyaman untuk dipakai
di rumah.
“Oh, iya ini untuk
terakhir kalinya aku memakai. Karena sudah telalu buluk, setelah ini akan
kubuang”.
Bodoooohhh! Kenapa
aku menjawab seperti barusaaan? Astaga, makin runyam deh masalahnyaaa! Regina
BODOH!
Stephen tidak marah
ataupun menjawab pernyataanku barusan. Dia malah mendekat ke arahku. Dia
memeluk dengan hangat dan berhasil membuyarkan airmataku. Ah, benar-benar
bodohnya aku.
“Sudah, jangan
menangis lagi. Kamu mungkin telah mengalami suatu hal buruk dan mempengaruhi
moodmu. Aku datang di saat yang tidak tepat, ya kan?”
“Maaf, Stephen,
maaf” , aku berhasil membasahi kemeja di badan Stephen dengan airmata dan ingus
(jorok!).
“Hee…okelaah aku
akan memaafkanmu dengan satu syarat”
“Apa-apaan sih
sampai hal seperti ini juga perhitungan?”
“Bukan mengenai
kelakuanmu yang jutek itu, sayangku. Tapi lihat, hasil karyamu di kemejaku yang
mahal ini!” , Stephen menunjukkan pola abstrak hasil karyaku di kemejanya
dengan ekspresi pura-pura kesal. Ah, dia berhasil membuatku tertawa lagi.
“Iya deh ….kuganti
deh. Dasar perhitungan banget sih jadi manusia! Apa maumu?”
“Hmmm….apaa yaa?”,
dia membuat gesture (sok) sedang berpikir keras. Memang cocok menjadi pelawak
manusia satu ini. Tiba-tiba dia memandangiku dengan lekat. Dia meraih daguku
dan mencoba mendekatkan wajahnya.
“Stephanie?”
Gerakannya terhenti
dan tersenyum. Tersenyum bersalah.
“Istirahatlah. Aku
hanya sebentar kesini untuk break jam makan siang. Nanti akan kupikirkan cara
menebus kemejaku ini”.
Stephen mencium
keningku dan berlalu.
Aku?
Termangu…….
----------------------------------------
---------TO BE CONTINUED --------------------------------------------------
Langganan:
Postingan (Atom)