Kamis, 21 Agustus 2014

Johanna Margaretha: Catatan ke 27 tahun

Johanna Margaretha: Catatan ke 27 tahun: Hari ini....tidak....lebih tepatnya minggu ini...adalah saat2 dimana tumben tumbennya aku banyak merenung dan bengong yang ada di benak ad...

Rabu, 20 Agustus 2014

Catatan ke 27 tahun

Hari ini....tidak....lebih tepatnya minggu ini...adalah saat2 dimana tumben tumbennya aku banyak merenung dan bengong

yang ada di benak adalah, "Gilak udah 27 tahun ! Sudah berbuat apa aja aku selama hidup belakangan ini?".....aku mencoba untuk mengingat SE-MU-A hal...tapi otakku terlalu lemah untuk itu

kalau bisa dibilang otakku seperti nge-hang

namun, semua berubah di saat malam ini kami mengadakan ibadah syukur bersama GP'ers dan kuartet kwek-kwek di rumah

Papa.....yang selama ini ternyata memperhatikanku dalam diam, menyatakan hal yang tak kusangka dan hampir menjebol bendungan airmataku

"Johanna, anak kami yang kami perhatikan selama ini....kami ga tau persis apa pergumulannya.... pergumulan pribadinya....tapi yang kami lihat dia tidak pernah mencoba menghindar....dia selalu hadapi....dengan ketekunan dia tetap menjalani semua pergumulannya"

Pa, Ma......maaf kalau akhir-akhir ini aku jarang share lagi dengan papa dan mama.....kalaupun ada itu hanya sekedar hal-hal yang berkaitan dengan pendidikanku saja. Sesungguhnya ada begitu banyak beban yg kusimpan dalam hati dan terpaksa itu semua kulakukan supaya papa dan mama ga kepikiran dan terlalu khawatir denganku

Sebenarnya sudah beribu kali aku ingin menyerah.....aku berusaha meminta pertolongan dari Tuhan dalam diam untuk meredakan rasa gemetar dalam diri saat menempuh pergumulan dan omongan negatif orang terhadapku selama ini. Melihat kondisi papa dan mama yang semakin hari semakin lemah...membuatku tak tega melontarkan keluhan yang sebenarnya selama ini ingin kuteriakkan. Oleh karena itu, selama ini Butet selalu menampilkan sosok yang tegas, idealis, dan mungkin sering memberikan statement keras. Butet ga mau memperlihatkan kelemahan dan rasa gemetar ini di hadapan papa dan mama....

Pa, Ma.....sudah 27 tahun ini kulihat papa dan mama sudah susah payah memperjuangkan hidup keluarga kita dan sampai sekarang belum memberikan bantuan yang berarti. Butet hanya bisa menyumbangkan bantuan berupa tidak berbuat yang macam-macam dalam pergaulan.....termasuk yaa itu....berusaha untuk menghadapi pergumulan pribadi yang senantiasa kualami tanpa harus membebani papa dan mama. Setiap hari Butet hanya bisa berdoa agar papa dan mama ditambahkan umurnya minimal 10 tahun....10 tahun saja....agar bisa melihat kami sukses, memiliki keluarga, sempat menimang cucu, pokoknya disempatkan melihat kami sekedar membalas semua kasih sayang dari papa dan mama

Pa Ma....maaf kalau Butet telat membahagiakan papa dan mama jika dibandingkan teman2 sebayaku yang sudah bekerja dengan mapan dan memiliki keluarga baru.....Semoga Tuhan sudi mengabulkan doaku yang ingin membahagiakan papa dan mama serta membanggakan seluruh keluarga kita di saat papa dan mama masih hidup dan kuat berdiri


Sabtu, 05 Juli 2014

SEKARANG ATAU LIMA PULUH TAHUN LAGI



Headline diatas pasti mengingatkan kita dengan judul lagu pop yang sempat popular beberapa tahun lalu ; serta telah beberapa kali di recycle dan di cover oleh penyanyi-penyanyi lain di tahun berikutnya. Akan tetapi, yang akan saya torehkan dalam tulisan kali ini tidak akan mengulas lebih dalam mengenai arti dan interpretasi lagu tersebut menurut pandangan pribadi; hanya saja sedikit banyak terinspirasi daripada lirik lagunya.
Pertama-tama yang terlintas dalam benak saya adalah…..waktu tidak pernah berjalan mundur atau menunggu kita yang sedang berjalan di dalamnya. Tidak pernah kutemui adanya hal yang sama persis ;  antara hal-hal yang kutemui kemarin dengan hal-hal yang ditemui hari ini, pun saya tidak mengetahui hal-hal apa yang AKAN ditemui esok. Kecuali, sesuai dengan kata orang bijak, ketika saya memutuskan untuk diam sementara rentetan waktu terus melaju ke depan.
Apapun pengalaman yang telah terjadi tentu akan tersimpan, mau tidak mau, sadar tidak sadar, hal itu tidak mungkin dilupakan…hanya tersimpan; apakah jauh ke dalam alam bawah sadar atau tetap dalam pikiran kita. Mungkin kita pernah mengalami dimana dengan sekuat tenaga memberikan sugesti untuk melupakan sesuatu ; akan tetapi di waktu yang tidak terduga hal tersebut muncul ke permukaan karena adanya suatu pemicu yang tidak kita sadari. Perasaan dan kesan yang kita dapat selama menempuh suatu pengalaman hidup sering membekas dan sulit untuk hilang sama sekali. Termasuk pengalaman bertemu dengan orang yang kita kasihi.
Saya percaya bahwa setiap manusia telah disiapkan pasangannya masing-masing. Akan tetapi, Tuhan menempatkan kita ke dalam suatu “proses” kepada kita melalui orang-orang yang kita temui untuk belajar “mengenali dia” , terlebih-lebih “mengenali diri kita sendiri” melalui pengalaman kita bersama “dia”. Interaksi yang berjalan secara intens dengan segala warna dinamika , sesungguhnya akan memberikan pengalaman yang berbeda setiap harinya.
Satu per satu orang yang kita kasihi mungkin datang secara silih berganti; hingga pada akhirnya kita menemui seseorang yang kita yakini bahwa , DIALAH ORANG YANG KIRANYA TELAH DIPERSIAPKAN TUHAN UNTUK MENJADI PENDAMPING HIDUPKU. Ketika kita telah berkomitmen bahwa hanya dialah yang menjadi satu-satunya alasan kegirangan kita dalam berbagi setiap segi kehidupan dalam ikatan keluarga yang utuh. Sepertinya suatu lagu wajib bagi calon pasangan dan pasangan tersebut untuk menyanyikan lagu yang menjadi headline ini :-D.
Akan tetapi, saya memiliki pandangan yang sedikit berbeda. Saya tidak ingin tetap sama seperti sekarang ini. Saya tidak ingin tetap memiliki kadar perasaan yang sama seperti saat pertama kali saya bertemu dan meyakini bahwa “kamu” adalah “aku”. Waktu terus berjalan  dan tidak mau menunggu. Saya ingin “kita” ikut berjalan dan mungkin berlari bersama waktu….saya tidak ingin kita hanya “diam”.
Saya ingin rasa cinta dan kasih saya semakin bertambah setiap harinya, setiap bulannya, setiap tahunnya. Saya ingin kita semakin tambah mengenal dan tak segan menunjukkan kelemahan kita setiap harinya, setiap bulannya, setiap tahunnya. Saya ingin kita tambah mengenal dan melengkapi setiap harinya, setiap bulannya, setiap tahunnya. Saya ingin semakin diperkaya dengan pengalaman melihat perkembangan buah hati kita bersama-sama setiap harinya, setiap bulannya, setiap tahunnya.
Mungkin hal yang akan menyebabkan kita terdiam adalah ketika kelelahan menyerang dan memaksa kita untuk istirahat sejenak. Sejenak. Tidak ingin berlama-lama.
Diam akan menjadi teman adalah ketika salah satu diantara kita terlalu jauh untuk menggandeng tangan dan berjalan bersama-sama. Ketika salah satu harus pindah ke tautan waktu yang berbeda dengan dunia fana. Ketika salah satu hanya bisa berjalan dan berlari sendirian….sambil menggenggam tanggung jawab serta kasih daripada buah hati yang menjadi pelipur lara. Ketika hanya salah satu yang tinggal dan menggenggam erat kenangan yang diam dan memeluk rindu.
Sekarang, esok, tahun depan, dasawarsa berikutnya….tidak akan sama. Waktu selalu menggandeng perubahan.

Selasa, 04 Maret 2014

INVISIBLE CRACKS.....Bagian Empat

Tididid….Tididid…Tididid….

“ Argh, menyebalkan sekali suara alarm ini membuat kepalaku pusing”, gumamku sambil menggosokkan mata. Tiba-tiba aku teringat akan Stephen dan kejadian semalam. Sontak badanku seperti melompat dari tempat tidur. “Apa? Aku sudah diatas tempat tidur?”, alangkah kagetnya saat kulihat jam alarm sudah menunjukkan pukul 05.30 pagi. Apa-apaan ini? Bukankah seharusnya tidak seperti ini? Bukankah seharusnya aku sedang mencari Stephen dan terjatuh di dapur? Siapa yang membiusku? Segala teka-teki itu membuat kepalaku berdenyut nyeri. Kuraih handphone ku dan memutuskan untuk tidak hadir pada hari ini…kepalaku sakit sekali. Aku perlu waktu untuk meluruskan yang sudah kualami tadi. Badanku terasa lemas .

Ah….aku memang membutuhkan istirahat dari segala rutinitasku yang harus bertemu dengan orang-orang yang menyebalkan itu. Menjauhkan diri dari segala tugas-tugas dan segala tatapan yang mengganggu itu barang sehariiii saja. Baiklah, hari ini aku akan membusuk disini. Hanya untuk hari ini.

Setengah jam berlalu dan aku hanya membolak-balikkan badan dengan gelisah. Merasa tidak tahan , akhirnya kuputuskan mencuci seprai dan membereskan rumah; ini lebih baik daripada hanya bengong dan tidak melakukan sesuatu.


---------------------------------**********------------------------------------------



Aku merasa bangga dengan hasil kerjaku di rumah ini. Rumah yang selama ini jarang mendapat “sentuhan” kini terasa sangat luas, bersih, jauh lebih nyaman dari sebelumnya. Senyuman lebarku seketika menghilang saat aku melihat bungkusan hitam di tong sampah. Dengan hati-hati aku menghampiri dan membuka isinya. Rupanya aku masih merasa penasaran dengan kejadian itu.
Ternyata yang kutemukan bukanlah pakaian Stephen semalam atau kain yang kugunakan untuk membersihkan “jejak”; melainkan tumpukan sampah dari dua hari yang lalu, yang belum sempat kubakar. Jidatku berkerut dan mulai merasa nyeri. Apa maksudnya semua ini? Masakan aku hanya bermimpi? Kucoba meraih tangan dan kakiku untuk melihat apakah ada tanda-tanda memar karena terjatuh. Tidak ada yang kutemukan. Ah, berarti itu hanya mimpi. Aku mencoba mengulangi kata-kata tersebut untuk membentuk suatu sugesti. Yap, ha-nya mim-pi.

Setelah membereskan rumah aku membereskan badan ini yang sudah mulai membusuk. Hahaha….lega rasanya sudah mengeluarkan keringat karena melakukan aktivitas yang menenangkan jiwa. Barulah semua sampah-sampah yang ada kubawa ke depan untuk dibakar.

“Rajin sekali pagi-pagi membereskan rumah!”, “Ahaha…sesekali bu. Rumah ini sudah hampir berbulan-bulan tidak terurus”. Ibu Emi, tetanggaku sedang menyapu halaman dan melihat seorang gadis yang selama ini jarang telihat. Mungkin saja ibu Emi merasa heran dengan diriku yang berangkat dari rumah saat pagi-pagi buta dan pulang ketika malam hari menjelang. Akupun menyapa Pak Bram yang sedang santai di teras rumahnya. Namun, aku merasa harus mampir kesana.

Setelah kuperiksa dan kukunci semua pintu dan jendela rumah, kuputuskan untuk ke tetangga yang sudah seperti orangtuaku. Bapak Bram dan Ibu Emi pun menyambut kedatanganku dengan hangat. Kami mengobrol dengan lancar sambil menyantap sarapan pagi buatan ibu Emi. Ah, kehangatan ini sangat kurindukan. Semenjak hari itu….

Alangkah terkejutnya saat aku melihat Koran pagi yang sedang dibaca pak Bram. Mungkin karena melihat wajahku yang penasaran, pak Bram menyodorkan Koran itu untuk kubaca.

Café di kota M Dikelilingi PoliceLine dan Melumpuhkan Kegiatan Operasional Sementara

“Telah terjadi keributan besar di sebuah café kawasan kota M pada pukul 01.35 dini tadi. Keributan ini berasal dari pihak sekuriti yang lengah dan membiarkan seorang pemuda menyusup di ruang ganti artis. Diduga pelaku tersebut menyusup masuk dan menyerang salah satu artis disana. Menurut keterangan saksi, artis tersebut diseret menuju pintu belakang; akan tetapi, berhasil dicegah oleh seorang pemuda lain yang kemudian menjadi korban penganiayaan pelaku.

Ketika pihak keamanan hendak turun tangan, pelaku telah memanggil teman-temannya sehingga menimbulkan keributan besar. Hingga kini, pemuda yang dianiaya beserta pelaku tidak dapat diidentifikasi keberadaannya. Kini pihak kepolisian hendak memeriksa teman-teman pelaku tersebut. Diduga mereka hanyalah preman yang dibayar oleh pelaku.”

PERSIS!

“Ada apa, nak? Kenapa wajahmu seperti itu?”, suara pak Bram menyadarkanku dari lamunan. Ibu Emi menatapku dengan wajah yang terheran-heran. “Berita ini menarik. Saya….merasa seperti menonton cuplikan adegan film detektif. Hahaha!”, aku mencoba menjawab seadanya agar tidak menimbulkan kecurigaan. Kami melanjutkan obrolan hingga menjelang siang hari. Rasanya tidak enak kalau berlama-lama disini.

Dalam perjalanan menuju pintu rumah, kepalaku kembali berkecamuk dengan potongan-potongan puzzle ini. Sugesti yang sudah susah payah kubangun sepertinya harus ditepis. Dari dalam rumah kudengar suara televisi yang menyala. Aku berlari menuju pintu belakang yang sekonyong-konyong sudah terbuka. Astaga, apa lagi ini?!

Jantungku serasa mau melompat saat kulihat sosok pemuda yang mengobrak-abrik lemari es dapur.

“Stephen??”

 “Oh, Hai! Aduh!”, kepala Stephen terbentur rak lemari es karena terlalu terburu-buru menyapaku. “Kenapa kamu tidak hadir hari ini?”. Pertanyaan yang aneh, pikirku. Aku mulai merancang suatu kecurigaan padanya.

“Sesekali ingin menjauh dan membereskan “sesuatu””, jawabku sambil mengangkat bahu.

“Yeah, bisa kulihat rumahmu jauh lebih tertata rapi dan….sesekali bersosialisasi dengan tetangga itu tidak salah kok”, jawabnya sambil melengkungkan cengiran khas Stephen.

“Berarti kamu sudah lama disini. Kenapa tidak nimbrung saja tadi?”

“Males ah, obrolan orangtua”

Sial.

“Jangan cemberut gitu, Gina. Manismu ntar berkurang loh. Tuh, kubawakan makanan dan minuman kesukaanmu; PLUS buah-buahan. Eh, tapi kayaknya buah sekeranjang itu kutarik deh…kukira kamu sakit”

“Terserah”, jawabku sambil berlalu menuju ruang tengah. 

Tanganku ditarik Stephen dan dia mendekatkan dahinya di dahiku. Cukup lama.

“Ah…aku tidak berhasil membaca pikiranmu”

“Apa maksudmu?”

“Ada sesuatu yang ingin kamu katakan padaku?”, dia berkata seperti itu sambil tersenyum. 

Sialan. Bukankah terbalik, seharusnya kamu yang menceritakan “sesuatu” padaku? Tentang kejadian semalam….setelah aku mengantarmu bekerja. Apa yang terjadi di Café itu?

Tidak ada sepatah katapun yang terucap dari mulutku. Aku hanya menurunkan sudut bibir dan menaikkan bahu. “Entahlah, aku hanya merasa lelah. Ingin bermalas-malasan saja hari ini. Seperti yang kubilang tadi, ingin menjauh dan membereskan “sesuatu” ”. Aku merasa sangat kecewa dengan kelakuan Stephen…..dan kelakuanku barusan. Kami seperti bermusuhan. Ah..situasi yang sangat MENYEBALKAN!

“Baju itu….”

Astaga, aku baru sadar kalau sedang memakai kemeja Stephen. Kemeja bulukan yang tidak sudi dipakainya. Kemeja ini kuanggap seperti piyama yang sangat nyaman untuk dipakai di rumah.

“Oh, iya ini untuk terakhir kalinya aku memakai. Karena sudah telalu buluk, setelah ini akan kubuang”.

Bodoooohhh! Kenapa aku menjawab seperti barusaaan? Astaga, makin runyam deh masalahnyaaa! Regina BODOH!

Stephen tidak marah ataupun menjawab pernyataanku barusan. Dia malah mendekat ke arahku. Dia memeluk dengan hangat dan berhasil membuyarkan airmataku. Ah, benar-benar bodohnya aku.

“Sudah, jangan menangis lagi. Kamu mungkin telah mengalami suatu hal buruk dan mempengaruhi moodmu. Aku datang di saat yang tidak tepat, ya kan?”

“Maaf, Stephen, maaf” , aku berhasil membasahi kemeja di badan Stephen dengan airmata dan ingus (jorok!).

“Hee…okelaah aku akan memaafkanmu dengan satu syarat”

“Apa-apaan sih sampai hal seperti ini juga perhitungan?”

“Bukan mengenai kelakuanmu yang jutek itu, sayangku. Tapi lihat, hasil karyamu di kemejaku yang mahal ini!” , Stephen menunjukkan pola abstrak hasil karyaku di kemejanya dengan ekspresi pura-pura kesal. Ah, dia berhasil membuatku tertawa lagi.

“Iya deh ….kuganti deh. Dasar perhitungan banget sih jadi manusia! Apa maumu?”

“Hmmm….apaa yaa?”, dia membuat gesture (sok) sedang berpikir keras. Memang cocok menjadi pelawak manusia satu ini. Tiba-tiba dia memandangiku dengan lekat. Dia meraih daguku dan mencoba mendekatkan wajahnya.

“Stephanie?”

Gerakannya terhenti dan tersenyum. Tersenyum bersalah.

“Istirahatlah. Aku hanya sebentar kesini untuk break jam makan siang. Nanti akan kupikirkan cara menebus kemejaku ini”.

Stephen mencium keningku dan berlalu.

Aku?

Termangu…….

---------------------------------------- ---------TO BE CONTINUED --------------------------------------------------



Rabu, 26 Februari 2014

INVISIBLE CRACKS.....Bagian Ketiga

Kalau kuingat-ingat, selama ini Stephen menceritakan perihal pekerjaan dengan tidak begitu mendetail. Hanya mengenai pekerjaan yang mengandung resiko tinggi kalau tidak berhati-hati dan kelihaian dalam menyamar sangat dibutuhkan. Akupun tidak pernah diperbolehkan masuk ke dalam café itu. Sepertinya penjaga sudah diberikan pesan agar aku hanya diperbolehkan mengantar atau menjemput di luar café saja.

Sempat kutebak-tebak dan kuungkapkan kepadanya langsung. Mulai dari germo, pengedar narkoba, penari striptis, penjaga para pelacur yang ada disana saat “beraksi”….tidak ada satupun yang dijawabnya dengan jelas, hanya terkekeh dan menggeleng-gelengkan kepala. Ah, geram jadinya. Sejak saat itulah aku menyerah mengurusi kehidupan malamnya itu. Yang penting dia selalu ada di saat aku butuh, begitu pula aku.


~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~******~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
        

     Tiba-tiba aku terbangun. Aku mengecek handphone terdapat puluhan panggilan tak terjawab. Stephen. Dia menelfon sejak dua jam yang lalu. Seketika itu juga aku merasakan bulu romaku berdiri. Stephen tidak pernah-pernahnya melakukan hal seperti ini. Sewaktu kucoba menelfon kembali tidak ada jawaban yang kuperoleh. Hanya nada tunggu dan diakhiri dengan mailbox. Perutku serasa melilit dan kepalaku tiba-tiba terasa berat. Sepertinya ada firasat yang tidak enak.
          
          Untuk menenangkan diri aku berjalan menuju dapur untuk mengambil air hangat. Namun, alangkah kagetnya aku ketika melihat pintu belakang di samping dapur terbuka. Aku langsung mencari panci penggorengan sebagai senjata untuk membela diri, lalu berjalan mengendap menuju pintu itu.

“STEPHEN….!!!!”
         
        Sontak aku berlari menuju tubuh Stephen yang berlumuran darah di bawah pintu belakang dapur. Wajahnya sudah dingin dan pucat. Aku mengecek kembali ke arah pintu luar apakah ada seseorang yang bersembunyi. Tidak ada. Hanya jejak darah Stephen yang tercecer dari pagar hingga pintu belakang ini. Tak lama kusembunyikan tubuh Stephen dan kubersihkan jejak darahnya dengan air dan karbol. Aku tak mau ada kecurigaan yang mengusik ketenanganku ini. Setidaknya sampai kuperoleh cerita dari Stephen sendiri mengenai apa yang sebenarnya telah terjadi.

          Seusai “pembersihan” itu, aku menuju ruangan dapur dan menyiapkan air hangat dan handuk bersih. Kucoba membersihkan luka-luka yang ada di wajahnya. Untunglah dia tidak mengalami luka tusuk di badannya. Sepertinya dia dihajar dengan benda tumpul. Apakah kali ini dia lengah dan ketahuan polisi? Segala pikiran jelek berkecamuk dalam kepalaku hingga membuatku mual. Aku seperti pengasuh bayi yang membersihkan badan Stephen yang tidak berdaya ini. Terpaksa tubuhnya kulilit dengan kain panjang karena pakaiannya sudah kumasukkan ke dalam plastic hitam untuk dibuang dan dibakar. Upaya menghilangkan jejak. Itulah yang sedang kulakukan sekarang, dari pakaian, halaman depan, hingga lantai dapur ini; kuupayakan tidak ada lagi jejak darah Stephen yang tercecer.

“Hey, Stephen. Apa kau mendengarku? Hey!” , kutepuk pipinya dengan harapan dia tidak pingsan. Untunglah dia bisa menggerakkan sedikit bibirnya. Kuraih air hangat ke mulutnya dan dia berusaha untuk menelannya. Dengan susah payah kubawa dia ke kamarku. Setidaknya bebanku agak berkurang karena yang kugotong bukan orang yang sedang pingsan.


~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~***********~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~


05.30 AM

Hari sudah berganti dan Stephen masih belum membuka matanya. Sempat terpikir untuk izin tidak masuk pada hari ini; tetapi, kecurigaan akan timbul ketika tau Stephen juga tidak hadir. Apalagi kalau sudah beredar rumor mengenai dia. Aduh, mual rasanya! Terpaksa aku membereskan file dan bersiap membuat sarapan. Entah kenapa aku ingin menghidupkan televise pagi ini. Sesekali menonton berita gossip selebriti ga ada salahnya, pikirku sambil tersenyum geli. Baru kali ini aku merasakan suasana lain saat mempersiapkan sarapan sambil menghidupkan televisi. Terkadang seperti orang gila dibuatnya, tertawa sendiri melihat berita dan tingkah konyol selebritis itu dengan segala sensasinya. Biasanya aku mempersiapkan sarapan untuk dibawa di perjalanan sambil diburu oleh waktu. Jarang sekali ada kesempatan untuk sekedar santai di depan televisi di rumah. Mungkin karena ingin mempersiapkan untuk “orang lain” yang ada di rumah. Ya, mungkin saja. Ah…lagi-lagi aku tersenyum sendiri.

Entah kenapa aku meraih remote dan mengganti saluran, mungkin karena sudah mulai bosan dengan selebritas itu. Saatnya melihat berita serius yang berbobot.

“Berita pagi ini. Telah terjadi keributan besar di sebuah café kawasan kota M pada pukul 01.35 dini tadi. Keributan ini berasal dari pihak sekuriti yang lengah dan membiarkan seorang pemuda menyusup di ruang ganti artis. Diduga pelaku tersebut menyusup masuk dan menyerang salah satu artis disana. Menurut keterangan saksi, artis tersebut diseret menuju pintu belakang; akan tetapi, berhasil dicegah oleh seorang pemuda lain yang kemudian menjadi korban penganiayaan pelaku.
Ketika pihak keamanan hendak turun tangan, pelaku telah memanggil teman-temannya sehingga menimbulkan keributan besar. Hingga kini, pemuda yang dianiaya beserta pelaku tidak dapat diidentifikasi keberadaannya. Kini pihak kepolisian hendak memeriksa teman-teman pelaku tersebut. Diduga mereka hanyalah preman yang dibayar oleh pelaku.”

Sontak jantungku berdegub kencang. Café di kota M? Jangan-jangan disitu tempat Stephen bekerja. Dia kutemukan di depan pintu rumah sekitar jam 4 dini hari dengan keadaan babak belur. Call history dimana dia berkali-kali berusaha menghubungiku dari dua jam sebelumnya. Potongan-potongan puzzle tersebut berkerumun dan mengeroyok logika yang ada. Aku berlari menuju kamar namun tidak kutemukan Stephen di atas ranjangku. Dengan kalut aku mencari di penjuru rumah. Saat hendak kembali ke dapur aku terpeleset dan terjatuh. Ada seseorang yang menyekap mulut dan hidungku dengan bius. 

Siapa? Stephen, kamu dimana? Tolong……..


------------------------------------ ---------TO BE CONTINUED -----------------------------------


Selasa, 04 Februari 2014

Invisible Cracks......Bagian Kedua

Kekalutan dan kecemasan memeluk erat pikiranku sekarang dan memaksa untuk dimuntahkan sesegera mungkin. Gelap kurasa dunia yang berguncang ini. Sontak aku menuju meja mereka dan bersiap untuk melabrak; namun, langkahku terhenti oleh kehadiran Stephen di muka. Airmata sudah hampir meluap bersamaan dengan amarah yang sudah dipendam sedari pagi.

"Barang ini mungkin bisa menyelamatkanmu...", katanya sambil menyerahkan flashdisk. "Ditunggu ucapan terima kasihnya ya. Minimal traktir aku makan malam ini".

Dengan keadaan setengah sadar aku mengecek isinya....dan VOILA! Semua data yang kubutuhkan ada di dalamnya. Airmata yang tertahan pun tertumpah dengan ucapan syukur....bukan umpatan. Baru saja mau mengucapkan, Stephen sudah berangkat menuju meja pertemuan.

 Ah, benar juga. Nanti saja dilanjutkan perayaannya...di rumahku.

------------------------------------------------------****-------------------------------------------------

"Hanya sebatas ini, rasa terima kasihnya? Sudah dua kali loh aku menyelamatkan hidupmu", sindirnya sambil terkekeh.

"Oh....tenang aja. Malam ini kamu akan kuberikan service lengkap dan spesial, dengan syarat harus menginap".

"Aah, masakan harus menginap? Sudah ada janji dengan klien ku malam ini, Gina. Ga bisa. Ntar rusak ladang periuk emasku. Hahaha!". 

Si Stephen ini dengan cueknya menolak tawaranku sambil menghabiskan lauk makan malam plus Smoked Spicy Beef Tortilla kesukaannya. Belum lagi jus buah dan es krim yang menunggu antrian dalam kulkas. Perut Sumur.

"Ehm, okee. Tapii...bukannya kamu harus memperhatikan keadaan kulitmu sebagai penunjang kegiatan sampinganmu itu? Lihat...berapa banyak gula dan lemak lainnya yang menumpuk di badanmu sekarang? Lihat wajahmu sekarang sudah mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Kita sudah dua minggu ini harus bergadang demi laporan saat meeting tadi pagi , kan? Kalau ga percaya, biar kuambilkan cermin!"

Stephen terdiam sejenak lalu melanjutkan menghabiskan semua sesajen yang ada di hadapannya....juga yang ada di dalam kulkas. Kubiarkan dia begitu sambil melihatnya memasang wajah serius. Lima belas menit kemudian semua upeti dariku telah habis disantapnya. Sepertinya dia masih berpikir dengan serius. Kalau begitu, kutinggalkan saja dia sendiri sambil membereskan sisa-sisa makanan ini.

Tak lama berselang, aku merasa dia menempelkan wajahnya di pundakku dengan manja. 

"Kamu janji dengan klien jam berapa?".

"Jam 11 malam nanti....", jawabnya dengan lemah
.
"Ya sudah, ga usah menginap; tetapi tetap jalankan saja salah satu service yang sudah kusiapkan khusus untukmu. Sebelum jam 9 sudah kelar kok, janji deh". 

Spontan Stephen langsung meraih cucian piring dan gelas untuk dibereskan di rak. Setelah itu dia langsung menarikku meninggalkan dapur. Buset, ga sabaran amat ini orang.

------------------------------------------------------****-------------------------------------------------

"Gimana, service ku yang sekarang kamu terima. Nyaman kan? Sesuai kebutuhan , kan?"

"Asli. Memang ini yang kuperlukan. Thanks loh, Gin".

Kami tersenyum sambil bertatapan dan menikmati pijatan refleksi yang menyelamatkan syaraf-syaraf tubuh lelah kami .

"Oh, God. Sudah satu bulan tubuhku ga dimanja seperti ini. Surga bangeeettttt.....". Celotehan dia akhirnya memancing senyum pegawai Spa ini.

 "Mbak Stephanie beruntung banget punya sobat seperti mbak Regina yang mengerti kebutuhan...sangat perhatian".

 "Denger tuh apa katanya barusan. Kamu jangan itung-itungan sama aku yaa", ucapku menyindir Stephanie....atau lebih dikenal sebagai Stephen.

"Aaah sudahlah. Jangan banyak ngedumel. Ntar rusak masker yang ada di wajah". Sontak mbak-mbak pegawai itu pada cekikikan geli melihat pertengkaran kecil kami barusan.

------------------------------------------------------****-------------------------------------------------

Mobil kuparkir di depan salah satu gedung Cafe tempat Stephen bekerja sampingan.
 "Kamu bukannya mau jumpa klien? Kok ke cafe ini?".

"Iyaa, kliennya mau lihat aku perform dengan teman2. Kalau dirasa cocok ya baru ada pembicaraan selanjutnya".

"Okelah, Good Luck ya. Jangan sampe berbuat hal-hal konyol. Kalau ada tingkah laku yang mencurigakan kamu langsung aja kabur, jangan ikut-ikutan. Aku gak mau denger berita kamu ketangkap ataupun terlibat masalah....". Belum selesai aku berbicara, Stephen langsung memeluk erat sambil membisikkan pesan kepadaku untuk tidak perlu mengkhawatirkan keadaannya.

Aku hanya bisa memperhatikan punggungnya yang pergi meninggalkan mobilku menuju Cafe itu dengan terburu-buru. Jalanan sekitar masih sangat sepi. Wajar saja, karena mobilku diparkir di pintu rahasia yang hanya orang tertentu saja boleh melewatinya. Mengingat jenis pekerjaan yang dilakoni....kemanan cafe itu bisa terjamin. Tapi, rasa khawatirku tetap saja menghantui. 

Kalau bukan karena latar kehidupannya yang memaksa Stephen a.k.a Stephanie mengambil jalur seperti ini. 

Ah, aku hanya bisa berharap dia bisa melewati hidupnya malam ini dengan baik dan selamat.


---------------------------------------- TO BE CONTINUED ------------------------------------------- 

Senin, 03 Februari 2014

Invisible Cracks.....Bagian Pertama

Ga ada SATUPUN makhluk di bawah kolong langit ini memiliki kesempurnaan 100%

"REGINA...!!!".....Ah...ayolah masih terlalu pagi buatku untuk meladeni ini lagi.

GUBRAK! Bunyi keras itu disambut dengan erangan dan hamburan coklat dan mawar di lantai keramik. Hatiku cukup iba untuk membiarkan hal ini. Kuulurkan tanganku sambil menyeka rambut sambil berharap orang ini baik-baik saja. Ah, tatapan ini lagi. Dia sepertinya tersihir dan melupakan rasa sakit dan kejadian bodoh barusan. Setelah membantu memposisikan badannya, sekonyong-konyong aku ditarik dan mataku berjarak hanya beberapa senti dari matanya. "Regina, aku...", PLAK!!!

Ku tinggalkan dia termangu dengan menahan perih di pipi...hadiah dariku. Ya...dia....salah satu dari, katanya, pengagum dan yang tak pernah lelah memberikan "perhatian" seperti tadi. Hadiah barusan, sepertinya bukan untuk pertama atau kedua kalinya kuberikan. ENGGA ADA KAPOK-KAPOKNYA! MUAK!

Aku melangkah menuju ruangan bagaikan tentara samurai yang siap menebas siapapun dan apapun penghalang di jalan.

Tapi...oh....tepat sekali, aku berjumpa dengan "tong sampahku" di persimpangan lorong menuju perpustakaan. Stephen.....sejenak termangu melihat keadaanku kemudian tersenyum. Keadaanku yang persis seperti kuda sehabis mengikuti track balapan selama beberapa kilometer jauhnya. "Repot ya, pagi2 sudah meladeni fans?" , katanya sembari membereskan penampilanku yang-sungguh-amat-sangat-ga-banget-plus-mengerikan. Rasanya nyaman....walau dia tidak menggunakan jurus rayuan maut atau banyak berbicara. Lalu dia menarik tanganku meninggalkan lorong menuju toilet. "Ayo, bereskan dulu penampilanmu sembari aku membelikan hot milktea kesukaanmu", Ah...Stephen memang tahu apa yang kusuka.

Seperti anak kecil....dengan patuhnya aku mengangguk dan ngacir ke dalam salah satu bilik untuk menyingkirkan sampah dan membereskan rambut serta bajuku. Benar-benar menjijikkan! Campuran kepingan coklat, kelopak mawar, ada di rambut, baju, serta tanganku! Argh! Inilah rentetan kejadian yang menjadi sumpahku...tidak akan terulang untuk kesekian kalinya. Tidak esok ataupun hari-hari lainnya...CUKUP!

"Aah....Regina mah emang gituuu! Doi pasti sombong karena kejadian tadi. Gila aja ya berani bener tampar dan menolak Juan, si cowo idaman kampus kita tadi pagi. Trus, hadiah yang dibawa diinjak2!! Iissh...kalau aku jadi dia gabakal nolak.". "Ahahaha, kamu mah sama siapa aja asalkan seperti Juan jadi koleksi juga gapapa kan?". "Iyaa, trus hadiah-hadiahnya bakal dijual lagi ke penadah supaya tambah modal". "Engga puas apa dengan uang saku dari si Om?"

Yupp....segerombolan cewe berisik tukang ngegossip mulai beraksi. Untung cepet2 kuambil recorder dan kurekam semua pembicaraan mereka. Mereka? Yak...dalam scene mereka adalah "Best Friend Forever-nya Regina"....tapi bagiku mereka adalah kutu-kutu. Hinggap ke tempat dimana mereka bisa menghisap darah sampai kenyang lalu loncat ke tempat lain sambil meninggalkan rasa gatal di tubuh induk semang. Simbiosis Parasitisme.

Dengan tenang kunikmati cercaan dan kicauan mereka sambil merekam dan membereskan penampilanku. Setelah mereka meninggalkan tempat barulah aku keluar mengendap-endap. Dan, Stephen sudah menunggu lama di lorong lain. "Kamu dengar semua omongan mereka pas di dalam?", tanya nya. "Yup, dan sudah kurekam seperti biasanya. Gila ya....Tuhan baik banget bisa sering mengatur moment kaya tadi. Hahhaha!". Stephen tidak tertawa...dia memandang dengan sinis lalu menghela nafas berat. "Nih, pesananmu...ada dapat bonus". Yess, hot milktea dengan bonus vanilla cream shake yang tebal diatasnya. Tidak memerlukan waktu lama bagiku untuk menghabiskan minuman favoritku itu...semacam candu.

Tak lama kami berjalan, akhirnya aku dan Stephen tiba di ruangan proyek praktek kami. Sebagai mahasiswa tingkat atas....kami sudah lumayan sering menghabiskan waktu untuk berdiskusi dan merancangkan penyelesaian tugas dari Tutor dalam ruangan khusus. Aku dan Stephen berada di ruangan yang sama namun berbeda bagian. Stephen di bagian Kreatif sedangkan aku, Regina, di bagian perencanaan.

"REGINAAA....!!!".

Ya, Tuhan ada apa hari ini? Tak bisakah aku tenang daripada suara dan intonasi seperti ini barang satu hariiiiii saja?

"REGINA! Kamu dari mana aja? Kupikir kamu sakit jadi ga masuk loohh".
"Loh, kok pikirannya gitu, Nes?".
"Denger-denger tadi pagi kamu jatoh karena si Juan",
 "Eh...gimana ceritanya sih? Kalian habis ngapain ajaaaa?".
 Agnes, Qania, dan Nila....trio rempong bin heboh ini berkicau lagi dengan kuantitas desibel yang tinggi.

Oh...kesabaranku mulai meluap dari tempatnya semenjak sindiran mereka di toilet tadi. "Terpeleset doang, kok", jawabku sambil mendekatkan gelas milktea ke mulutku. Tiba-tiba gelasku sudah direbut dan berpindah tangan ke Qania. "Hmm...pantesan aja kamu sering beli ini. Emang enak sih yaaa...Ahahahahaha!". Oh, astaga demi apapun itu. Lain kali kalau aku bawa ke hadapan mereka.....isinya sudah terlebih dahulu kucampur obat pencahar ekstra kuat.

"Ya udah, lain kali kubelikan juga buatmu", jawabku datar
"Eh, beneran yaa? Asikk...Regina baik bangeet!". Aku hanya menyambut dengan senyuman sinis. Baiklah...kita jalankan rencanaku besok.

Tak ingin menambah masalah, kuputuskan untuk mengambil segelas air dingin sambil menuju meja kerja. Masih ada beberapa menit sebelum koordinator proyek ini datang dan memulai meeting pagi yang membosankan. Mungkin masih ada beberapa yang bisa kukerjakan sebagai persiapan. Kuhempaskan tubuhku ke kursi dan menyalakan PC untuk membuka beberapa file yang sudah dipersiapkan sebagai laporan meeting nanti.

Tapi......dimana file-file itu?

Dengan panik aku mencari di recently open sampai ke recycle bin. Namun tidak ada satupun data yang kucari tertinggal manis didalamnya. TIDAK ADA SATUPUN

Entah kenapa aku mendengar suara cekikikan mereka bertiga sambil melirik ke arahku....lalu berlalu menjauh.

KALIAN.....!!!!!!!!

Ah....tamatlah aku! Tidak sampai 15 menit lagi pimpinan proyek datang!


-------------- TO BE CONTINUED ------------------